"Ya Rabb-ku, ampunilah aku, dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan, yang tidak dimiliki oleh seorangpun juga sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha pemberi’."
Rabu, 07 Desember 2016
ADA KEBAIKAN DI BALIK DOA YANG BELUM DIKABULKAN
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghaafir: 60)
Selasa, 15 Desember 2015
3 Perkara Untuk Mendapatkan Keampuhan Doa
![]() |
Pada dasarnya, doa-doa yang disyariatkan dalam Al-Qur'an maupun Sunnah sangat mujarab dan
penuh manfaat. Khasiat yang disebutkan di dalamnya benar-benar ada. Baik doa tersebut berisi permintaan kebaikan atau perlindungan dari keburukan.
Misalnya doa saat sinnggah di sebuah tempat dalam hadits dari Khaulah binti Hakim al-Salamiyah Radhiyallahu 'Anha berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ نَزَلَ مَنْزِلًا ثُمَّ قَالَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ
"Siapa yang singgah di suatu tempat, lalu ia membaca: A'udzu Bikalimaatillaahit Taammaati min Syarri Maa Khalaq (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakan-Nya) maka tak ada sesuatupun yang membahayakannya sehingga ia beranjak dari tempatnya tersebut." (HR. Muslim)
Siapa yang membaca doa ini dengan benar, maka ia akan terlindungi dari berbagai gangguan, keburukan, dan kejahatan (seperti sakit atau pengaruh buruk) yang ditimbulkan oleh makhluk yang memiliki keburukan dan potensi jahat, seperti jin, manusia, dan selainnya, baik yang nampak atau tersembunyi sehingga ia meninggalkan termpat tersebut. Seperti sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, "Maka tak ada sesuatupun yang membahayakannya sehingga ia beranjak dari tempatnya tersebut."
Imam al-Qurthubi telah memberikan kesaksian atas doa ini. Beliau telah membuktikannya dan biasa mempraktekkannya, sehingga pada suatu malam beliau lupa membacanya saat memasuki rumahnya sehingga beliau tersengat kalajengking. Lalu beliau berkata, "Maka aku berpikir (merenung), ternyata aku telah lupa berta'awudz (berlindung) dengan kalimat-kalimat tersebut."
Namun terkadang seseorang yang sudah membacanya namun masih juga tersengat binatang, diganggu jin, atau kecurian. Apanya yang salah? Apa doanya tidak mujarab? Ataukah yang mengabarkan berdusta?
Seorang muslim wajib mengimani, apa yang diberitakan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah benar, dan apa yang beliau perintahkan pasti membawa manfaat. Beliau tidak berdusta dan tidak mengarang-ngarang sendiri dalam memberikan tuntutan. Semua itu berasal dari wahyu yang beliau terima dari Rabbnya dan Tuhan kita semua.
. . . doa dan bacaan ta’awudz (perlindungan) itu seperti senjata (pedang). Hebatnya sebuah pedang bukan hanya bergantung kepada ketajamannya saja, tapi juga orang yang menggunakannya. . .
Ibnul Qayyim dalam kitabnya Al-Jawab al-Kaafi Liman Sa-ala ‘An al-Daa’ al-Syaafii, menjelaskan tentang sebab doa itu mujarab. Beliau mengibaratkan doa dan bacaan ta’awudz (perlindungan) itu seperti senjata (pedang). Hebatnya sebuah pedang bukan hanya bergantung kepada ketajamannya saja, tapi juga orang yang menggunakannya. Apabila pedang itu sempurna, tidak ada cacatnya, sementara penggunanya adalah orang yang kuat, serta penghalang-penghalangnya hilang, maka pedang tersebut pasti bisa membinasakan musuh. Namun sebaliknya, jika salah satu dari tiga syarat tadi luput, maka kehebatannya juga berkurang.
Begitu juga doa, jika kalimatnya sendiri tidak benar, atau orang yang berdoa tidak mengabungkan antara hati dan lisannya dalam berdoa, atau di sana ada penghalang dari dikabulkannya doa, maka pasti tidak akan diperoleh manfaat dari doa yang dibaca tersebut.
Misalnya, membacakan surat Al-Fatihah atas orang sakit akan menjadi obat. Namun ada orang yang membacanya, tapi tidak menyembuhkan. Maka itu bukan karena al-Fatihahnya yang tidak mujarab, tapi bisa jadi karena salah membacanya, pembacanya tidak kuat keyakinannya atau adanya mawani' antara sebab dan pengaruhnya.
Misal lain, orang yang membaca doa ketika akan berjima' maka syetan tidak akan bisa menimpakan gangguan pada anak tersebut. Namun, ada orang yang sudah membacanya, tapi anaknya tetap diganggu syetan. Maka hal itu bukan karena doanya tidak benar, tapi bisa ada masalah pada diri orang yang berdoa atau adanya mawani' yang menghalangi terkabulnya manfaat.
Maka saat doa tidak dikabulkan, hendaknya ia mengintrospeksi diri dan mencari tahu apa yang menghalangi dari terkabulnya doa perlindungan yang dibacanya tersebut. Mungkin, karena makanan yang tidak halal, banyaknya kemaksiatan yang dikerjakan, atau mungkin masih ada durhaka kepada orang tua. Wallahu Ta'ala A'lam.
VOA-Islam
4 Bacaan Dzikir Saat Adzan Berkumandang
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Saat kumandang adzan, kaum muslimin diperintahkan untuk mendengarkannya. Kemudian mengikuti apa yang dibaca muadzin, kecuali pada Hai’alatain (ucapani Hayya ‘Alash Shalah & Hayya ‘Alal Falaah), maka ia mengucapkan Laa Haula wa Laa Quwwata Illaa Billaah.
Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
إِذَا سَمِعْتُمْ اَلنِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ اَلْمُؤَذِّنُ
“Apabila engkau sekalian mendengar adzan maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin.” (Muttafaq ‘Alaih)
Dalam riwayat Muslim yang lebih detail, dari jalur Umar bin Al-Khathab, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ فَقَالَ أَحَدُكُمْ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ثُمَّ قَالَ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ قَالَ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ
Apabila mua’adin membaca Allahu Akbar – Allahu Akbar, hendaknya salah seorang kalin juga membaca Allahu Akbar – Allahu Akbar. Kemudian saat membaca Asyhadu An Laa Ilaaha Illallaah, ia membaca Asyhadu An Laa Ilaaha Illallaah. Saat membaca Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullaah, ia membaca Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullaah.
Kemudian saat muadzin membaca Hayya ‘Alash Shalaah, ia membaca Laa Haula wa Laa Quwwata Illaa Billaah. Saat ia membaca Hayya ‘Alal Falaah, ia membaca Laa Haula wa Laa Quwwata Illaa Billaah.
Kemudia saat ia membaca Allahu Akbar-Allahu Akbar, ia membaca Allahu Akbar – Allahu Akbar. Saat ia membaca Laa Ilaaha Illallaah, ia membaca Laa Ilaaha Illallaah, dari hatinya pasti ia masuk surga.” (HR. Muslim) Ini yang pertama.
Kedua, membaca shalawat atas Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam setelah selesai menjawab adzan.
Dari Abdillah bin Amr bin Al-‘Ash Radhiyallahu 'Anhuma, ia mendengar Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
إِذا سمِعْتُمُ النِّداءَ فَقُولُوا مِثْلَ ما يَقُولُ ، ثُمَّ صَلُّوا علَيَّ ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى علَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ بِهَا عشْراً
“Apabila kamu mendengar adzan, ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin. Kemudian bershalawatlah atasku, karena siapa yang membaca shalawat kepadaku sekali, Allah bershalawat atasnya sepuluh kali...” (HR. Muslim)
Ketiga, Dilanjutkan dengan membaca doa,
اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ اَلدَّعْوَةِ اَلتَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ اَلْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا اَلْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا اَلَّذِي وَعَدْتَهُ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ
Ini berdasarkan hadits Jabir Radhiyallahu 'Anhu, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa yang mendengarkan adzan lalu berdoa –dengan doa di atas-, maka dia akan memperoleh syafaat dariku pada hari Kiamat.” (HR. Al-Bukhari dan selainnya)
Keempat, berdoa untuk kebaikan dirinya di antara adzan dan iqamah. Karena doa di saat itu tidak akan ditolak. [Baca: Doa Mustajab Antara Adzan & Iqamah]
Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ
“Doa di antara adzan dan iqomah tidak akan ditolak.” (HR. Abu Dawud dan Al-Tirmidzi, beliau menshahihkannya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di Misykah al-Mashabih, no. 671)
Terdapat tambahan lafadz perintah berdoa dalam riwayat yang dikeluarkan Imam Ahmad,
إِنَّ الدُّعَاءَ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ فَادْعُوا
“Sesungguhnya doa di antara adzan dan iqamah tidak akan ditolak, maka berdoalah kalian.” (Syaikh Sy’aib al-Arnauth berkata: isnadnya shahih)
Imam Al-Shan’ani dalam Subul al-Salam berkata, “Dan hadits ini menunjukkan dikabulkannya doa di tempat-tempat ini. Karena tidak ditolaknya doa berarti diterima dan dikabulkan. Kemudian ini berlaku umum untuk semua doa. Dan harus diikat dengan keterangan pada beberapa hadits lainnya, yaitu selama dia tidak berdoa dengan suatu dosa atau memutus silaturahim.”
Imam al-Syaukani dalam Nailul Authar berkata, “Hadits tersebut menunjukkan dikabulkannya doa di antara adzan dan iqomah secara mutlak. Dia diikat dengan keterangan selama doa tersebut tidak berisi dosa dan memutus silaturahim, sebagaimana tertera dalam beberapa hadits shahih.” Wallahu A’lam.
VOA-Islam
Kamis, 13 November 2014
Menolak Kemiskinan Dengan Ayat Pertama Surah Al-Ikhlas
Dalam kehidupan di zaman modern penuh fitnah dewasa ini, kita jumpai banyak sekali manusia yang hidup dipenuhi kegelisahan berkepanjangan. Dan salah satu kegelisahan tersebut bersumber dari kekhawatirannya akan jatuh miskin. Inilah fenomena nyata yang membuktikan betapa faham materialisme telah mendominasi mayoritas penduduk planet bumi. Kebanyakan orang saat ini jauh lebih takut akan kehilangan harta daripada kehilangan iman dan keyakinannya akan Allah Sang Pencipta jagat raya.
Banyak orang telah menjadikan kesuksesan dalam kehidupan dunia sebagai tujuan utamanya. Padahal Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam memperingatkan kita bahwa jika dunia telah menjadi fokus perhatian utama, maka hidup seseorang bakal berantakan dan kemiskinan bakal menghantui dirinya terus-menerus.
Apa yang dapat kita simpulkan dari hadits Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam di atas? Kesimpulannya ialah jika seorang hamba hidup dengan senantiasa sadar dan yakin bahwa Allah adalah Pemberi Rezeki sesungguhnya dan bahwa tugasnya sebagai orang beriman ialah terus-menerus mengokohkan keyakinan akan hidup yang sesungguhnya ialah di kampung akhirat nan kekal, bukan di negeri dunia nan fana ini, maka dengan sendirinya Allah-pun akan membalas keyakinannya yang mulia dan benar itu dengan balasan yang selayaknya sebagaimana Allah sendiri janjikan di dalam KitabNya:
Barangsiapa ber’amal sholeh, maka Allah jamin kehidupannya bakal baik di dunia dan Allah bakal balas dengan yang jauh lebih baik dari ’amal sholehnya di akhirat kelak. Namun, saudaraku, itu semua dengan syarat yang sangat fundamental, yaitu ”dalam keadaan beriman.” Dan iman yang paling pokok ialah ber-tauhid. Termasuk di dalamnya ialah hanya bergantung kepada Allah Yang Maha Ahad (Esa), tidak bergantung kepada apapun atau siapapun selain Allah.
Oleh karenanya, Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam memberikan kabar gembira kepada setiap muwahhid (ahli tauhid). Bahwa hidup mereka bakal dijauhkan dari kemiskinan. Dan untuk memperoleh jaminan tersebut ternyata cukup dengan setiap kali pulang ke rumah membaca ayat pertama surah Al-Ikhlas sebelum masuk ke dalam rumah.
Tentunya itu semua dilakukan bukan sekedar sebagai mantera berupa komat-kamit di bibir belaka. Namun ia mestilah diiringi dengan keyakinan penuh akan makna dari ucapan kalimat tersebut: “Qul huw-Allahu Ahad” (Katakanlah: Allah itu Maha Esa). Artinya, ucapkanlah sambil meyakini sedalam mungkin di dalam hati bahwa tidak ada tempat selain Allah untuk memohon dan mengharapkan datangnya rezeki berkah yang bakal mencukupi hidup kita plus hidup anak-istri plus biaya kita untuk beribadah, ber’amal, berda’wah dan berjihad di jalan Allah Ta’aala.
Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Barangsiapa membaca “Qul huw-Allahu Ahad” (surah Al-Iklash ayat pertama) ketika masuk ke dalam rumahnya, maka kefakiran (kemiskinan) bakal tertolak dari penghuni rumah tersebut dan kedua tetangganya.” (HR Thabrani)
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari sifat pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang dan kesewenang wenanggan manusia.
Eramuslim
Senin, 06 Oktober 2014
Keutamaan Berdoa Saat Makan
Melihat yang demikian itu, Nabi SAW tertawa kemudian berkata, ‘Setan tadi makan bersamanya. Tatkala laki-laki itu menyebut nama Allah, setan memuntahkan apa yang telah masuk ke dalam perutnya’.” (Diriwayatkan Abu Dawud dan An-Nasa`i).
Keindahan sunnah Nabi Muhammad SAW salah satunya tampak pada persoalan makanan. Budaya Barat yang banyak diikuti masyarakat kita yang latah budaya modern mengenal istilah etiket kulinari. Padahal itu semua hanya budaya semu yang mengajarkan pola-pola yang kalah jauh dengan nilai-nilai sunnah Nabi SAW. Dengan keindahan sunnahnya, Nabi SAW mengajarkan keterpaduan antara adab dan doa. Doa-lah yang menjadi makanan, bukan sekadar cicip-cicip, menuai nilai berkah hingga ampunan dosa. Pada edisi ini, kajian hadits mengetengahkan hal yang sering luput dari perhatian orang tersebut.
Dari Umayyah bin Makhsyiyy Ash-Shahabiyy RA, ia berkata, “Suatu ketika, saat Rasulullah SAW tengah duduk-duduk, ada seorang laki-laki yang sedang makan tetapi ia tak menyebut nama Allah hingga makanannya tinggal satu suapan. Tatkala ia akan menyuap satu suapan itu ke mulutnya, ia berdoa: Bismillahi awwalahu wa akhirahu (Dengan menyebut nama Allah di awal dan di akhir makan).
Melihat yang demikian itu, Nabi SAW tertawa kemudian berkata, ‘Setan tadi makan bersamanya. Tatkala laki-laki itu menyebut nama Allah, setan memuntahkan apa yang telah masuk ke dalam perutnya’.” (Diriwayatkan Abu Dawud dan An-Nasa`i).
Syarah Hadits
Hadits ini diriwayatkan Abu Dawud dalam bab Makanan bagian Menyebut Nama Allah di Hadapan Makanan. Al-Mundziri juga mengaitkan hadits ini pada riwayat An-Nasa‘i dalam bab dan bagian yang sama dalam kitabnya, Sunan al-Kubra.
Sesungguhnya setan akan ikut serta bersama manusia dalam berbagai keadaan ketika seseorang lepas dari mengingat Allah Ta’ala, termasuk di dalam urusan makan dan minum.
Saat seseorang lupa membaca doa di awal melahap makanan, lalu baru ingat setelahnya, hendaklah tatkala mengingatnya itu ia segera membaca doa: Bismillahi awwalahu wa akhirahu. Dengan demikian, setan akan berhenti mengikutinya di dalam makannya.
Dari Aisyah RA, ia berkata, “Suatu ketika, saat Rasulullah SAW tengah makan bersama enam orang sahabatnya, datanglah seorang Arab baduwi yang makan dua kali suapan. Lalu Rasulullah SAW bersabda, ‘Seandainya ia menyebut nama Allah, niscaya makanan itu cukup bagi kalian’.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi).
Syarah Hadits
Hadits ini diriwayatkan At-Tirmidzi dalam bab Makanan bagian Apa yang Disampaikan dalam Bertasmiyah atas Makanan.
Sesungguhnya Allah Ta’ala akan memberikan keberkahan pada makanan yang di dalamnya disebut nama Allah Ta’ala. Dan sebaliknya, keberkahan tak akan ada bila tak disebut nama Allah atas santapan itu.
Bagi si badwi, makanan itu berkurang nilainya, yakni nilai keberkahannya dan nilai jumlah makanan. Tapi yang lebih penting, sebagaimana maksud hadits ini, nilai keberkahannya. Karena keberkahan ada di saat makan bersama-sama (al-barakah fil jama’ah) dengan menyebut nama Allah.
Dari Umamah RA, Nabi SAW jika mengangkat hidangannya berdoa, “Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak dan baik serta penuh keberkahan di dalamnya, yang tak terbalaskan dan amat dibutuhkan, wahai Tuhan kami.” (Diriwayatkan Al-Bukhari).
Syarah Hadits
Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari dalam bab Makanan bagian Apa yang Diucapkan jika telah Selesai Makan.
Maksud mengangkat hidangan di sini ialah seusai makan makanan sehingga tempat sajiannya lalu diangkat. Dan Rasulullah SAW mencontohkan hal semacam itu. Beliau mengangkat sendiri wajan makannya jika telah selesai makan.
Disunnahkan menyebut pujian bagi Allah Ta’ala di akhir santap makanan sebagai wujud meneladani Rasulullah SAW dan yang utamanya hendaknya doanya dengan doa yang ma’tsur semacam ini.
Dari Mu‘adz bin Anas RA, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda: Siapa yang memakan makanan lalu ia berdoa ‘Segala puji bagi Allah, yang telah memberiku makanan ini dan telah mengkaruniakan rizqi bagiku dengan tanpa daya dan kekuatan dari diriku’ dihapuskanlah dosanya yang telah berlalu’.” (Diriwayatkan Abu Dawud dan At-Tirmidzi).
Syarah Hadits
Hadits ini diriwayatkan At-Tirmidzi dalam awal-awal permulaan bab Pakaian, sedangkan At-Tirmidzi memuatnya dalam bab Doa-doa.
Disunnahkan memuji Allah Ta’ala di akhir makan bersamaan dengan menunjukkan sikap tadharru’ (tunduk patuh) kepada-Nya, yang telah memberikan kecukupan dalam hidup, karena Allah-lah Yang Maha Memberi kenikmatan, Yang Maha Mengkaruniakan rizqi. Dan tidak ada bagian kemuliaan bagi manusia dalam hal semacam ini, karena mereka makhluk, yang berhajat kepada Khaliq.
Hadits ini juga menerangkan bahwa orang yang berdoa dan memuji Allah atas limpahan nikmat makanan itu mendapatkan ampunan dari Allah atas kesalahannya di masa lalu. Masih saja Allah Ta’ala membalas sesuatu yang wajib dilakukan hamba-Nya atas pemberian-Nya itu dengan balasan yang tiada bandingnya. Subhanallah.
Majalah-Alkisah
Sabtu, 13 September 2014
Kekuatan Doa Seseorang
Ketakwaan mendatangkan pertolongan yang tak terduga dari Allah SWT.
Di tiap masa dan generasi, pastilah terdapat para wali Allah SWT. Mereka mendapat berbagai keistimewaan dan posisi yang mulia di sisi-Nya. Prestasi ini diraih, antara lain berkat proses penempaan spiritual dan pendekatan (taqarrub) yang intensif dan kontinu dalam menggapai ridha-Nya.
Manfaat yang paling nyata dari kedudukan terhormat di hadapan Tuhan tersebut, yakni para wali tidak memiliki rasa khawatir dan gelisah menghadapi persoalan apa pun. Ini tak lain karena seperti yang disebutkan sebuah hadis Qudsi, tiap penglihatan, pendengaran, dan doa para hamba yang telah memiliki kedekatan dengan Sang Khaliq, tak pernah jauh dari “sentuhan-sentuhan”-Nya.
Para wali Allah tersebut ada pula yang berasal dari generasi sahabat, salah satunya ialah Abu Mu’allaq. Tidak dijelaskan secara pasti nama lengkap sahabat Rasulullah SAW tersebut. Sejumlah buku sejarah tidak menyebutkan secara pasti identitas asli tokoh yang dikenal sebagai saudagar sukses itu. Ia cukup dikenal dengan panggilan gelar (kunyah) saja.
Cerita yang banyak beredar dan diriwayatkan secara turun-menurun, Abu Mu’allaq, merupakan pedagang sukses. Ia menjalankan perniagaan, baik dari permodalan sendiri ataupun menjalankan investasi orang lain. Bisnis yang ia jalankan telah merambah ke berbagai daerah.
Sering kali ia mesti melangsungkan perjalanan jauh, ribuan kilometer, dan menaklukkan keganasan padang pasir untuk berdagang di wilayah tertentu.
Meski demikian, kesibukan berniaga sang sahabat tidak lantas membuatnya lalai akan perintah agama. Justru, gemerlap duniawi mampu ia redam dengan gelora ketaatan dan ketakwaan. Abu Mu’allaq terkenal ahli ibadah dan berhati-hati dalam urusan dunia dan agama (wara’).
Suatu ketika, di tengah-tengah perjalanan bisnisnya, Abu Mu’allaq melewati gurun di tengah malam nan gelap. Ia tidak ditemani siapa pun, seorang diri. Kali ini sekaligus ia tidak bersenjata. Tiba-tiba datanglah seorang penyamun yang mempersenjatai diri dengan sebilah pedang, lalu menghadang sang sahabat.
Sang perampok lantas menghunuskan pedangnya di leher Abu Mu’alaq. “Serahkan hartamu. Jika tidak, aku akan menebas lehermu,” kata perampok dengan nada tinggi dan menggertak. “Ambil saja hartaku dan biarkan aku pergi,” jawab Abu Mu’allaq. Si penyamun berkata, “Tidak bisa, harta akan aku ambil, tetapi aku akan tetap membunuhmu.”
Kondisi genting yang dihadapi Abu Mu’allaq tak membuatnya takut dan gentar. Ia tidak membalas ancaman fisik itu dengan kekerasaan.
Tetapi sebaliknya ia malah mengajukan permohonan kepada si perampok agar diizinkan shalat empat rakaat sebelum si perampok mengeksekusinya. “Izinkan saya shalat terlebih dahulu sebelum Anda membunuh saya,” pinta Abu Mu’allaq. Permintaannya pun dikabulkan.
Kemudian, Abu Mu’allaq berwudhu dan shalat empat rakaat. Di pengujung shalatnya, detik-detik akhir sujudnya, ia berdoa agar Allah melindungi keselamatan jiwanya dari si perampok. Tak selang berapa lama, datanglah pengendara kuda dengan tombak yang diletakkan lurus sejajar tepat di antara kedua telinga kuda yang ia kendarai.
Sadar akan kehadiran pengendara misterius itu, si perampok bersiap diri, tetapi apa boleh buat. Si pengendara kuda itu lebih lincah dan lihai. Perampok pun akhirnya terbunuh. Usai duel maut, pengendara itu mendekati Abu Mu’allaq. Dengan rasa penasaran dan penuh keheranan, ia bertanya kepada pengendara misterius, siapakah gerangan dirinya.
Pengendara misterius menjawab, “Berdirilah. Aku adalah malaikat dari langit keempat. Aku mendengar suara bisikan di pintu-pintu langit pascadoa pertama yang engkau panjatkan. Setelah doa keduamu, aku mendengar keributan di antara penghuni langit. Pada pamungkas doamu, aku menerima kabar bahwa itu adalah doa dari hamba yang meminta pertolongan. Lantas aku pun meminta Allah agar mengeksekusi si perampok.”
Ampuh
Seperti apakah redaksi doa yang dipanjatkan oleh Abu Mu’allaq? Berikut doanya, “Ya wadud ya wadud, ya dzal’arsyi al-majid, ya fa’alu lima turidu, as’aluka bi’izzikal ladzi la yuram, wa bimulkikalladzi la yudhamu, wa binurikal ladzi mala’a arkana ‘arsyika an takfiyani syarra hadza al-lissha, ya mughits aghitsni.”
(Wahai Maha Pengasih wahai Maha Pengasih, Wahai Pemilik ‘Arsy yang terhormat, wahai Pelaksana segala apa yang Engkau kehendaki, aku meminta kepadamu dengan kemuliaan-Mu yang tak terkurangi, lewat singgasanamu yang tak terbinasakan, dan atas cahaya-Mu yang menyinari sendi-sendi singgasana-Mu, hendaknya engkau jauhkan keburukan pencuri ini. Wahai Penolong, tolonglah hamba-Mu.)
Doa ini diucapkan sebanyak tiga kali oleh Abu Mu’allaq dan akhirnya terkabul berkat kewaliannya.
Republika
Sabtu, 23 Agustus 2014
Doa Dapat Merubah Takdir
إِلَّا الدُّعَاءُ وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ (الترمذي)
إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنِيبُوا
إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
(HR Ahmad 9342)
Saudaraku, janganlah berputus asa dari rahmat Allah ta’aala. Bila Anda merasa taqdir yang Allah ta’aala tentukan bagi hidup Anda tidak memuaskan, maka tengadahkanlah kedua tangan dan berdo’alah kepada Allah ta’aala. Allah ta’aala Maha Mendengar dan Maha Berkuasa untuk mengubah taqdir Anda. Barangkali di antara do’a yang baik untuk diajukan sebagai bentuk harapan agar Allah ta’aala mengubah taqdir ialah sebagai berikut:
فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ
زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ
Waktu Yang Utama Dan Mulia Untuk Berdoa
Jumat, 25 Juli 2014
TUJUH KEUTAMAAN DZIKIR "LAA ILAAHA ILLAALLAH"
IBNU Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Kalimat tauhid (Laa ilaaha illallah) memiliki keutamaan yang sangat agung yang tidak mungkin bisa dihitung.” Tapi kebanyakan kita tidak tahu keutamaan kalimat tauhid atau tahlil ini.
Berikut adalah beberapa keutamaan kalimat tahlil “Laa ilaaha illallah.”
1. Kalimat ‘Laa ilaaha illallah’ merupakan harga surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘laa ilaaha illallah,’ maka dia akan masuk surga,” (HR. Abu Dawud no. 1621).
2. Kalimat ‘Laa ilaaha ilallah’ adalah kebaikan yang paling utama, Abu Dzar berkata,”Katakanlah padaku wahai Rasulullah, ajarilah aku amalan yang dapat mendekatkanku pada surga dan menjauhkanku dari neraka.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau melakukan kejelekan (dosa), maka lakukanlah kebaikan karena dengan melakukan kebaikan itu engkau akan mendapatkan sepuluh yang semisal.” Lalu Abu Dzar berkata lagi, “Wahai Rasulullah, apakah ‘laa ilaaha illallah’ merupakan kebaikan?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Kalimat itu (laa ilaaha illallah) merupakan kebaikan yang paling utama. Kalimat itu dapat menghapuskan berbagai dosa dan kesalahan.”
3. Kalimat ‘Laa ilaaha illallah’ adalah dzikir yang paling utama. Dari Jabir rodhiyallohu ‘anhu, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Dzikir yang paling utama adalah laa ilaaha illallah, dan doa yang paling utama adalah alhamdulillah,”
(HR. Ibnu Majah, An Nasa’I Shohih Targhib wa Tarhib: 1526 ).
4. Kalimat ‘Laa ilaaha ilallah’ adalah pelindung api neraka. Dari Umar radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku akan mengajarkan sebuah kalimat, tidaklah seorang hamba mengucapkannya dengan benar dari hatinya, lalu ia mati diatas keyakinan itu, kecuali (Allah) mengharamkan tubuhnya dari api neraka. Yaitu kalimat laa ilaaha illallah,” (HR. Hakim-Shohih Targhib wa Tarhib: 1528).
Suatu saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam mendengar muadzin mengucapkan ‘Asyhadu allaa ilaaha illallah.’ Lalu beliau mengatakan pada muadzin tadi, “Engkau terbebas dari neraka,” (HR. Muslim no. 873).
5. Kalimat ‘Laa ilaaha illallah’ adalah dzikir dan perantara doa. Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, Musa berkata: Wahai Tuhanku ajarkanlah kepadaku sesuatu, yang aku akan berdzikir dan berdoa kepadaMu dengannya. Allah berfirman: Wahai Musa ucapkanlah Laa ilaaha illallah. Musa berkata: Wahai Tuhanku seluruh hambaMu mengucapkan kalimat ini. Allah berfirman: Wahai Musa! Seandainya langit tingkat tujuh dan apa yang ada didalamnya serta bumi tingkat tujuh selain Aku diletakkan di suatu timbangan, dan laa ilaaha illallah diletakkan di timbangan yang lain, maka akan berat timbangan laa ilaaha illallah,” (HR. Ibnu Hibban, Hakim-Fathul Bari: 11/28).
6. Kalimat ‘Laa ilaaha ilallah’ menunda kiamat. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan terjadi kiamat (apabila) masih ada orang yang menyebut laa ilaaha illallah,” (HR. Ibnu Hibban, Ta’liqotul Hisan: 6809, Ash Shohihah: 3016).
7. Dzikir Laa ilaaha illallah pahalanya paling banyak. Sebagaimana terdapat dalam shohihain (Bukhari-Muslim) dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa mengucapkan ‘laa ilaaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syay-in qodiir’ (tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu) dalam sehari sebanyak 100 kali, maka baginya sama dengan sepuluh budak (yang dimerdekakan, pen), dicatat baginya 100 kebaikan, dihapus darinya 100 kejelekan, dan dia akan terlindung dari setan pada siang hingga sore harinya, serta tidak ada yang lebih utama darinya kecuali orang yang membacanya lebih banyak dari itu,”
(HR. Bukhari no. 3293 dan HR. Muslim no. 7018).
Dan masih banyak lagi keagungan–keagungan dzikir tahlil “Laa ilaaha illaallah.” Marilah kita berdzikir “laa ilaaha illaallah” sebanyak–banyaknya dengan hati yang tulus ikhlas diwaktu pagi dan petang, sebagaimana firman Allah “Wahai orang–orang beriman, berdzikirlah kepada Allah, sebanyak–banyaknya,”
(Al- Ahdzab: 41).
Islampos.com









