رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لا يَنْبَغِي لأحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ


"Ya Rabb-ku, ampunilah aku, dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan, yang tidak dimiliki oleh seorangpun juga sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha pemberi’."

Senin, 09 Mei 2016

Kisah Seorang Dokter Muslimah Mengobati Pasien 24 Jam Gratis, Sampai Ke Habisan Uang




Di tengah orang berlomba-lomba mengumpulkan harta menggantikan biaya kuliah yang mahal, para dokter kerap memasang tarif dalam memberikan pelayanan. Tidak heran biaya pengobatan terbilang mahal bagi sebagian masyarakat.

Namun, bagi Ferihana (35) sejak menyandang gelar dokter, tak sekalipun ia memasang tarif bagi pasiennya alias gratis. Pun, ia sekalipun tak pernah “untung”.

Dokter lulusan Universitas Islam Indonesia tersebut membuka prakteknya di Sumberan 297, Desa Ngestiharjo Kecamatan Kasihan Kabupaten Bantul, Yogyakarta, sejak tahun 2012. Ferihana yang akrab disapa Hana sedari awal membuka praktik dokter umumnya memang tidak dikenai tarif.

“Pengobatan di tempat saya gratis termasuk obatnya, tapi juga kadang ada pasien yang memberikan infak secara sukarela,” ujar Hana.

Tidak hanya gratis, kliniknya juga buka untuk melayani 24 jam bagi seluruh masyarakat.

“Jadi terbiasa kalau ada pasien datang tengah malam, bahkan pernah juga menjelang Subuh ada pasien yang ingin pemeriksaan,” ungkapnya.

Konsep pelayanan sukarela tersebut tercetus bahkan sebelum Hana menjadi dokter.

Hana sedari kuliah sangat aktif dalam kegiatan sosial semisal memberikan pengobatan gratis bagi masyarakat yang kurang mampu di berbagai daerah pelosok. Ia juga melayani konsultasi kesehatan melalui SMS.

“Jadi memang sudah terbiasa seperti ini (sukarela). Semua ini terinpirasi dari kakek saya, beliau yang selalu memberikan contoh tentang menolong orang lain. Tempat praktik ini pun juga diberikan oleh kakek saya,” ungkap Hana.



Rumah Tua

Tempat praktik Hana dulunya adalah sebuah rumah tua. “Awal-awal masyarakat ragu, apakah benar ini tempak praktik dokter karena kondisi rumah. Banyak yang bilang, enggak mungkin rumah dokter kok jelek,” ucapnya. Lambat laun, ia merenovasi rumahnya agar masyarakat lebih yakin.

“Keraguan masyarakat awal-awal ada, bahkan saya sempat ditanyakan ijazah. Sempat dituduh bukan dokter dan macam-macam. Namun lambat laun, karena mereka butuh dokter juga, akhirnya sekarang semua sudah tidak ragu lagi,” tutur Hana.

Saat ini Hana begitu dibutuhkan di lingkungan masyarakat sekitar terutama jika ada keadaan darurat.

“Yang menyenangkan dari pekerjaan ini adalah bagaimana saya dan pasian selalu senang bila bertemu, saya senang mengobati, pasien senang diobati saya. Akhirnya hubungan yang terjalin bukan lagi dokter dengan pasien, tapi lebih seperti interaksi dalam keluarga,” terang Hana.



Kekurangan Uang

Konsep pelayanan sukarela harus diakui Hana dan suaminya, tidak bisa memberikan banyak penghasilan.

“Sekitar tahun 2012-2013 saya sempat mengalami keadaan benar-benar tidak mempunyai uang, habis. Sejak saat itu saya berdoa kepada Tuhan agar diberikan penghasilan sampingan untuk menunjang pengobatan gratis ini,” ungkap Hana.

Walaupun menerima infak, toh tetap tidak bisa menutup biaya operasional seperti obat-obatan dan alat-alat medis lainnya.

Dengan pengalaman di klinik kecantikan, Hana pun mencoba membuka praktik kecantikan disebelah tempat praktik pengobatan gratisnya.

“Syukurnya, penghasilan dari klinik kecantikan bisa meng-cover biaya operasional, namun saya tetap fokus di pengobatan gratis karena itu pekerjaan utama saya dan masyarakat lebih membutuhkan,” terang Hana.



Cari Relawan

Mengelola dua klinik sekaligus, Hana bekerja seorang diri sebagai dokter. Ditanya soal mencari dokter pembantu kliniknya, Hana menjawab sudah sering mendapat tawaran tersebut. Namun pada akhirnya dokter-dokter relawan tidak bertahan lama.

“Mereka kadang hanya bertahan beberapa hari saja. Saya maklum karena kan semua orang butuh penghasilan, jika bergabung dengan saya berarti harus siap tidak mendapatkan uang dan siap lelah,” ungkap Hana.

Diakuinya, juga banyak yang ingin membantunya walau kemudian terhenti di lisan saja. Kedepannya, ia berharap akan ada banyak dokter yang bisa menolong sesama dengan sepenuh hati.

“Awal-awal saya minta izin juga ke ayah saya untuk membukaa praktik sukarela ini, karena kan beliau yang membiayai kuliah saya. Untungnya, beliau sangat mendukung bahkan pada awal memulia membantu memnuhi kebutuhan peralatan,” tutur Hana.

Sejauh ini, dokter Hana tidak pernah menyerah dan merasa lelah dengan idealisme pekerjaan yang ia anut. Sekalipun harus memenuhi panggilan pekerjaan di tengah malam.


VOA-Islam