رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لا يَنْبَغِي لأحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ


"Ya Rabb-ku, ampunilah aku, dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan, yang tidak dimiliki oleh seorangpun juga sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha pemberi’."

Senin, 18 Juni 2012

Berdoa Itu Membahagiakan



Doa merupakan saripati ibadah. Setiap praktik peribadatan dalam agama apa pun –khususnya Islam– selalu disertai dengan kegiatan berdoa. Tak hanya itu, berdoa juga seringkali dilakukan dalam kehidupan muamalah
Ketika kondisi kehidupan diliputi kekurangan dan kemiskinan, misalnya, berdoa seolah menjadi harapan satu-satunya umat manusia. Padahal, untuk mengubah suatu kondisi tidak cukup hanya dengan berdoa saja. Dibutuhkan kerja keras, daya upaya, dan usaha untuk mengubah sebuah kondisi yang sejatinya dilakukan oleh kita.
 Ali Syari’ati mengkritik sikap seseorang yang menjadikan doa sebagai satu-satunya sumber pengharapan tanpa melakukan segala daya dan upaya. 
Di dalam bukunya bertajuk Al-Dua, pemikir sosial asal Iran ini mengungkapkan, “Doa itu tidak boleh menjadi semacam opium (obat penenang) yang membunuh keberanian, kejantanan, perasaan dan kesadaran. Doa yang dilantunkan seorang Muslim mestinya seperti doa yang dilakukan para nabi untuk melawan pihak-pihak yang menantang ajaran Tuhan." Sederhananya, menurut Ali Syari’ati, doa mestinya melahirkan semangat perubahan luar biasa pada diri. Doa tidak hanya menenangkan jiwa, tapi mampu membangkitkan daya hidup dalam diri untuk keluar dari suatu kondisi tidak baik menjadi lebih baik.
Umat manusia cenderung egois dengan memaksakan kehendaknya untuk dikabulkan Allah. Padahal, diperlukan sebuah gaya komunikasi interaktif antara hamba dengan Tuhan dalam sebuah kesempatan yang ditentukan, ketika dirinya sedang tertimpa sebuah masalah besar. Kadangkala, ketika seseorang berhadapan dengan masalah yang sangat besar, ia kerap terjebak melakukan hal-hal di luar garis moral yang ditentukan Islam. Berdoa merupakan kompas yang berfungsi membetulkan arah jalan kehidupan umat manusia, sehingga mereka sadar bahwa dibalik harapan tersimpan kenyataan yang diluar perkiraannya. Dalam hal ini, berdoa secara konsisten akan mengembalikan seorang individu untuk kembali pada ketenangan dan ketentraman, sehingga dapat kembali berkonsentrasi melakukan perubahan.

Fazlur Rahman, di dalam buku bertajuk “Islamic Methodology in History” (1965), menjelaskan bahwa masalah pokok di bidang moral mengenai kemerdekaan dan pertanggungjawaban manusia adalah ketiadaan pijakan moral. Sehingga ayat-ayat Al-Quran dan amal perbuatan Nabi diperlukan untuk menjamin agar energi kreasi tetap maksimal dan menjaganya agar tetap dalam koridor moral yang benar. Begitu juga bagi seorang manusia yang tengah bergelut dengan masalah -entah itu kemiskinan atau musibah-, diperlukan sebuah aktivitas bernilai ilahiyah, yakni berdoa. Dengan inilah maka perubahan diri yang kita lakukan akan membahagiakan kehidupan kita di dunia maupun di akhirat kelak. 
(Mizan.com)