رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لا يَنْبَغِي لأحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ


"Ya Rabb-ku, ampunilah aku, dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan, yang tidak dimiliki oleh seorangpun juga sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha pemberi’."

Kamis, 03 Mei 2012

Perbedaan Kita Dengan Mereka




Sikap orang Yahudi dan Nasrani berbeda. Sekalipun di antara mereka terhadap kaum Muslimin memiliki kesepakatan. Orang Yahudi melakukan peperangan dengan kata-kata dan perang pisik, yang dilandasi oleh kebencian dan kedengkian serta dusta, yang tidak akan pernah berhenti. Sepanjang kehidupan ini.
Sedangkan orang Nasrani mendukungnya dan mengikuti jejak orang Yahudi, yang menghalangi-halangi manusia beriman kepada agama Allah Rabbul Alamin, al-haq (Islam). Orang Yahudi dan Nasrani satu dengan lainnya, saling tolong-menolong dan melindungi di antara mereka.
Ketika Abu Bakar memasuki Baitul Maqdis (al-Aqsha), ia menjumpai sekelompok orang Yahudi sedang berkumpul dengan seorang pendeta mereka yang bernama Fanhas. Abu Bakar berkata:
"Celakalah engkau. Hai Fanhas! Bertaqwalah kepada Allah dan masuklah dalam agama Islam. Wallahi. Engkau benar-benar telah mengetahui bahwa Muhammad adalah Rasul Allah. Ia datang kepada kaum dengan membawa kebenaran dari sisi-Nya yang tertulis di dalam Taurat dan Injil".
Pendeta Fanhas menjawab dengan sombong:
"Wallahi. Hai Abu Bakar. Kita tidak membutuhkan Allah. Justru Dia lah yang menghajatkan kita. Kita tidak tunduk kepada-Nya, sebagaimana Ia tunduk kepada kita. Kita tidak memerlukan Dia. Jika memang Allah itu kaya, tentu Dia tidak meminjam kepada kita seperti yang dikatakan oleh temanmu (Muhammad) itu. Dia melarang kamu dari riba dan membolehkannya buat kami. Sekiranya Dia kaya, tentu Dia tidak memberikan riba itu kepada kami!".
Mendengar perkataan Fanhas itu, Abu Bakar sangat marah. ia memukul muka Fanhas dengan sangat keras, sambil berkarta: "Demi Dzat Yang jiwaku di tangan-Nya. Jika tidak ada perjanjian di antara kita, pasti aku sudah membunuhmu, hai musuh Allah!". Kemudian, Fanhas melaporkan kejadian ini kepada Rasulullah. Setelah beliau menanyakannya kepada Abu Bakar, maka Abu Bakar menjawab: "Wahai Rasulullah. Sesungguhnya Fanhas telah menghina Allah!". Tetapi, Fanhas menolak dan tidak mengakuinya. Kemudian turunlah ayat berikut:

لَّقَدْ سَمِعَ اللّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاء سَنَكْتُبُ مَا قَالُواْ وَقَتْلَهُمُ الأَنبِيَاء بِغَيْرِ حَقٍّ وَنَقُولُ ذُوقُواْ عَذَابَ الْحَرِيقِ ﴿١٨١﴾
"Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan, 'Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya'. Kami telah mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh Nabi-Nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka), 'rasakanlah oleh azab yang membakar'."(QS. al-Imran [3] : 181)

Sepanjang sejarah mereka terus membuat rencana, gerakan, makar, dan permusuhan, kedengkian yang amat sangat terhadap orang Mukmin. Mereka tidak akan pernah berhenti memusuhi dan memerangi orang-orang Mukmin. Karena kesesatan mereka dalam masalah aqidah, yang berpangkal dari kesombongan mereka. Orang Yahudi dan Nasrani, satu dengan lainnya saling tolong menolong dan melindungi di antara mereka. Karena keduanya musyrik.
Mereka akan senantiasa menghalang-halangi manusia menuju jalan Allah. Mereka tidak suka melihat manusia berbondog-bondong masuk ke dalam agama Allah. Karena itu, mereka membuat makar, dan berbagai cara, sebagai "wasilah" untuk menghalangi manusia kepada jalan kebenaran (al-haq).
Segala bentuk kedurhakaan, kemaksiatan, kemunkaran, kesesatan, penyelewengan, dan dosa, serta peperangan adalah produk dari mereka, Yahudi dan Nasrani. Mereka terus menghalangi-halangi manusia menuju jalan Allah dengan sangat keji. Sebagaimana mereka menciptakan permusuhan terhadap kaum Aus dan Khazraj, yang telah masuk ke dalam agama Islam. Firman-Nya:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللّهِ مَنْ آمَنَ تَبْغُونَهَا عِوَجًا وَأَنتُمْ شُهَدَاء وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ ﴿٩٩﴾يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوَاْ إِن تُطِيعُواْ فَرِيقًا مِّنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ يَرُدُّوكُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ ﴿١٠٠﴾
"Katakanlah, 'Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendaki menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan? Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan'. Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengkuti sebagian dari orang-orang yang diberi al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman". (QS. al-Imran [3] : 99-100)

Orang-orang Yahudi itu, mereka menginginkan agar orang-orang Nasrani tetap dalam kesesatannya, dan musyrik terhadap agama Allah, serta tidak ingin orang-orang Nasrani mengikuti agama Islam. Orang-orang Yahudi memasukkan kesesatan ke dalam agama Nasrani, dan karena mereka bersama-sama memusuhi agama Allah, al-Islam.

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لاَ تَغْلُواْ فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلاَ تَتَّبِعُواْ أَهْوَاء قَوْمٍ قَدْ ضَلُّواْ مِن قَبْلُ وَأَضَلُّواْ كَثِيرًا وَضَلُّواْ عَن سَوَاء السَّبِيلِ ﴿٧٧﴾
"Katakanlah, 'Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampui batas) dengan cara yang tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus'."(QS. al-Maidah [5] : 77)

Itulah sebabnya mengapa al-Qur'an menyebutkan tentang orang-orang Yahudi begitu keras. Yakni dengan menyebutkan sejarah mereka, mengungkap sifat-sifat mereka dan kerusakan hati mereka, karena dipenuhi dengan kedengkian, khianat, nafsu, serta penuh dengan tipu daya. Sama hal nya itu, dan hal itu juga dilakukan oleh orang-orang Nasrani.
Maka, menghadapi mereka yang sangat sombong dengan penuh permusuhan dan kedengkian, serta sikap khianat itu, kita orang-orang Mukmin, kita harus ikhlas kecintaan kepada Rabbul Alamin. Mengarahkan (mengorientasikan) hidup kita hanya untuk menyembah, taat, tunduk, berbakti, berserah diri hanya kepada Allah Rabbul Alamin.
Orang-orang Mukmin harus menjadi antitesa dari mereka (orang-orang musyrik), Yahudi dan Nasrani, yang hidupnya hanyalah untuk kepentingan dunia dan kenikmatan dunia. Sampai-sampai mereka mengatakan bahwa Allah itu miskin, dan berhutang kepada mereka. Itulah bentuk kesombongan yang sangat luar biasa terhadap Allah Rabbul Alamin. Itulah perbedaan antara kita (orang-orang Mukmin) dengan mereka (orang-orang musyrik - Yahudi dan Nasrani).
Sa'ad bin Abi Waqqash ra sebelum pecah perang Qadisiyah, mengutus Rib'iy bin Amir untuk menghadap Rustum, panglima perang Persia. Maka Rib'iy menghadap Rustum yang tengah duduk diatas singgasananya yang bertahtakan emas berlian dalam ruangan yang penuh dengan hiasan indah dan mewah. Rib'iy memasuki ruangan istana Rustum dengan pakaian yang kasar sambil menyandang alat perang, dan tetap menaiki kudanya, sehigga merusak permadani yang sangat tebal dan indah Rustum. Setelah mengikatkan kudanya yang pendek ke salah satu ujung kain bantal Rustum, ia menghadapnya dengan tetap tidak merubah penampilannya.
Para pengawal Rustum menegurnya, "Letakkan senjatamu!". Mendengar teguran itu, Rib'iy berkata, "Aku datang ke sini karena diundang kalian. Kalau kalian tidak suka dengan penampilanku seperti ini, aku akan kembali". Rustum angakat bicara, "Biarnkanlah dia!". Maka Rib'iy berdiri dihadapan Rustum sembari bersandar pada tombaknya.
"Apa yang engkau bawa?" tanya Rustum. Rib'iy menjelaskan, "Allah Ta'ala telah mengutus kami untuk mengeluarkan manusia yang Dia kehendaki dari penyembahan terhadap hamba kepada penyembahan terhadap Allah saja, dari kesempitan dunia menuju kelapangan akhirat, dan dari kezaliman agama-agama kepada keadilan Islam,"ujar Rib'iy.
Hanya dengan sikap yang sangat jelas, yaitu iman dan aqidah orang-orang Mukmin yang kuat, dapat tegak menghadapi orang Yahudi, Nasrani, serta kafirin-musyrikin, di tengah-tengah semakin rusaknya aqidah dan iman kaum Mukmin, akibat digerogoti oleh produk-produk Yahudi dan Nasrani, sampai kemudian sebagian diantara orang-orang beriman, ada yang luruh (murtad), akibat mengikuti kebiasaan, tata cara, dan gaya hidup mereka.
Ribi'y bin Amir tidak merasa takut, minder, dan lemah, ketika menghadapi Rustum di istananya yang begitu megah, dan mewah, serta mempesona. Tetapi, Rib'iy tetap dapat menunjukkan sikapnya sebagai Mukmin dengan sangat tegas. Tidak melemah dengan keindahan dunia yang begitu mempesona dimata manusia.