رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لا يَنْبَغِي لأحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ


"Ya Rabb-ku, ampunilah aku, dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan, yang tidak dimiliki oleh seorangpun juga sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha pemberi’."

Senin, 23 Januari 2012

Kepada Merekalah Allah ‘Azza wa Jalla dan Para MalaikatNya bershalawat

Ash Shalawaat adalah jamak dari Ash Shalah yang artinya doa. Jadi, kurang lebih shalawat adalah doa-doa.
Allah Ta’ala berfirman:
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.                  (QS. At Taubah (9): 103)

Makna wa shalli ‘alaihim adalah:
Dan berdoalah untuk mereka dengan ampunan bagi dosa-dosa mereka. (Tafsir Al Muyassar, 3/345)
Selanjutnya, berikut ini adalah orang-orang yang mendapakan shalawat dari Allah Ta’ala dan para MalaikatNya, yang disebutkan dalam Al Quran dan As Sunnah. Hendaknya kita berupaya menjadi pribadi yang sangat mengharapkan shalawat tersebut. Apakah kita termasuk di dalamnya?

1. Kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Secara khusus Allah Ta’ala menyebutkan bahwa Allah dan para Malaikat, bershalawat kepadanya, dan kaum mukminin juga dianjurkan bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
FirmanNya:
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. At Taubah (9): 56)

Imam Al Bukhari Rahimahullah mengomentari ayat ini:
Berkata Abul ‘Aliyah: “Shalawatnya Allah adalah pujian kepadanya (nabi) di hadapan malaikat, dan shalawatnya malaikat adalah doa.” Berkata Ibnu Abbas: yushalluuna (mereka bershalawat) yaituyubarrikuuna (mereka memberkahi). (Lihat Jami’ush Shahih, Kitabut Tafsir, Bab Qaulihi: Innallaha wa malaikatahu …dst)

Ada pun anjuran bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang diterangkan dalam hadits, cukup banyak. Di antaranya:

- Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
Dan bershalawatlah kalian kepadaku, sesungguhnya shalawat kalian sampai kepadaku di mana pun kalian berada.
(HR. Abu Daud No. 2042, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi, Kanzul ‘Ummal No. 41512, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 4162)

Imam An Nawawi mengatakan isnad hadits ini shahih. (Khulashah Al Ahkam fi Muhimmat As Sunan wa Qawa’id Al Islam, 1/440), Imam Ibnu Hajar juga mengatakan demikian. (Fathul Bari, 6/488)
Dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
Orang bakhil (pelit) adalah orang yang disebut namaku di sisinya, lalu dia tidak bershalawat kepadaku.(HR. At Tirmidzi No. 3546, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 2015, Al Baihaqi, Syu’abul ImanNo. 1567, Abu Ya’la No. 6776, Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf No. 794, Al Bazzar No. 1342, Abu Nu’aim, Ma’rifatush Shahabah No. 1696)

Imam At Tirmidzi berkata: hasan shahih gharib. (Sunan At Tirmidzi No. 3546), Imam Al Hakim mengatakan: sanadnya shahih tetapi Bukhari dan muslim tidak meriwayatkannya. (Al MustadrakNo. 2015), Imam As Sakhawi mengatakan: “Dishahihkan oleh Imam Ibnu Hibban dan dikuatkan oleh Imam Ad Daruqutni.” (Al Maqashid Al Hasanah, 1/234), Syaikh Husein Salim Asad mengatakan:isnadnya shahih. (Lihat ta’liq Beliau terhadap Musnad Abu Ya’la No. 676), Syaikh Muhammad bin Darwisy bin Muhammad mengatakan: hasan. (Asna Al Mathalib fi Ahadits Mukhtalifah Al Maratib, No. 465)
- Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali saja, maka dengannya Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.
(HR. Muslim No. 384, At Tirmidzi No. 485, Abu Daud No. 523, Ath Thabarani, Al Kabir No. 13269, dari Ibnu Umar)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Tidaklah suatu kaum duduk di majelis, dan mereka tidak menyebut nama Allah ‘Azza wa Jalla di dalamnya, dan tidak bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melainkan akan menimpa mereka kesedihan pada hari kiamat, dan jika mereka masuk ke dalam surga itu adalah karena ganjarannya .” (HR. Ahmad No. 9965, Ibnu Hibban No. 591, 592, Ath Thabrani dalam Al Awsath No. 4831, juga dalam Ad Du’a No. 1926)

Imam Al Haitsami, beliau mengatakan: “Diriwayatkan Ahmad, rijalnya adalah rijal hadits shahih.” (Lihat Majma’ Az Zawaid, 10/79. 1408H-1988M. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, Beirut), Syaikh Al Albani mengatakan; “isnadnya shahih.” (As Silsilah Ash Shahihah 1/116, No. 76. Darul Ma’arif – Riyadh. Lihat juga Shahih At Targhib wat Tarhib No. 1513. Cet. 5. Maktabatul Ma’arif – Riyadh),Syaikh Syu’aib Al Arnauth juga mengatakan: shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim. (Ta’liq Musnad Ahmad No. 9965. Muasasah Ar Risalah)
Berkata Imam Al Munawi Rahimahullah:
“Maka, ditekankan untuk menyebut nama Allah dan bershalawat atas RasulNya ketika hendak bangun dari majelis, dan kesimpulannya bahwa sunah dalam berdzikir dan shalawat dengan lafaz mana pun, tetapi yang lebih sempurna adalah dzikir dengan: Maha Suci Engkau, Ya Allah dengan memujiMu, Aku bersaksi Tiada Ilah Kecuali Engkau, aku memohon ampunanMu, dan aku bertobat kepadaMu. Sedangkan bacaan shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah bacaan yang ada pada akhir tasyahud.” (Faidh Al Qadir, 5/560. Cet.1. 1415H-1994M. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, Beirut)
Dan masih banyak hadits lainnya tentang anjuran dan keutamaan bershalawat atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

2. Kepada orang yang mengajarkan kebaikan
Dari Abu Umamah Al Bahili Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
Sesungguhnya Allah, para malaikatNya, penduduk langit, penduduk bumi, sampai semut di lubang-lubangnya, dan ikan-ikan, mereka bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia. (HR. At Tirmidzi No. 2685, katanya: hasan shahih gharib. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir No. 7912, 28740, Alauddin Al Mutaqqi Al Hindi, Kanzul ‘Ummal No. 28736. Syaikh Baari’ ‘Irfan Taufiq mengatakan: shahih. Lihat Shahih Kunuz As Sunnah An Nabawiyah, Baab Al ‘Ilm wa Amru Al ‘Aalim wal Muta’allim No. 13)

Imam Al Munawi Rahimahullah mengatakan:
Shalawat dari Allah adalah rahmat, dan dari malaikat adalah istighfar (permohonan ampunan), dan tidak ada kedudukan yang lebih tinggi dibanding orang yang membuat malaikat dan seluruh makhluk sibuk beristighfar dan berdoa untuknya. (At Taisir bisyarhi Al Jami’ Ash Shaghir, 2/330)
Sementara Ath Thayyibi mengatakan bahwa shalawatDari Allah Ta’ala di sini adalah keberkahan dari langit. (Tuhfah Al Ahwadzi, 7/380)

Jadi, keberkahan dan rahmat Allah Ta’ala, begitu pula doa dan permohonan ampunan dari para malaikat, seluruh makhluk yang ada di langit, seluruh makhluk yang ada di bumi, baik itu manusia, jin, dan hewan, sampai-sampai semut dan makhluk laut yang tak terhitung jumlahnya, untuk orang-orang yang mengajarkan kebaikan dan ilmu bermanfaat kepada manusia. Maka, beruntunglah para guru, ustadz, da’i, muballigh, mu’allim, dan semua manusia yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain, terlebih mengajarkan ilmu-ilmu agama. Ini adalah kabar gembira yang begitu luar biasa …. !

3. Kepada orang yang menyambungkan shaf shalat
Yaitu yang kepada orang yang mau mengisi dan merapatkan shaf yang kosong di antara barisan jamaah shalat. Menyempurnakan dan mengisi shaf awal sebelum yang kedua, menyempurnakan shaf yang kedua, sebelum yang ketiga, dan seterusnya.

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat kepada orang-orang yang menyambungkanshaf. (HR. Ibnu Majah No. 995, Ahmad No. 23481, Ibnu Hibban No. 2163, Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No. 4968, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi, Kanzul ‘Ummal No. 20554, dari Abu Hurairah)

Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: hasan. (Ta’liq Musnad Ahmad No. 23481)
Apakah yang dimaksud menyambungkan dan menyempurnakan shaf? Hal ini dijelaskan oleh Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr Hafizhahullah:
Dimaksud “menyambung” adalah dengan menyempurnakan shaf yang awal dahulu, tidak membuat shaf kedua sebelum shaf pertama sempurna. Tidak membentuk shaf yang ketiga kecuali setelah shaf kedua sempurna, tidak membentuk shaf keempat, kecuali setelah shaf ketiga sempurna … begitu seterusnya. Demikian juga menyambungkan shaf adalah dengan mendekat dan merapatkan shaf, dengan tidak ada celah-celah di dalamnya. Mendekat dan merapatkan shaf adalah dengan mengikuti arah (posisi) imam, bukan ke salah satu ujung shaf. Sesungguhnya manusia mengarah pada arahnya imam, jika mereka berada di sebelah kanan hendaknya mereka merapat dan mendekat ke arah kiri, jika mereka di sebelah kiri imam maka mereka merapatkan ke kanan yaitu ke posisi imam. Lalu, menyambung shaf juga dengan cara memenuhi shaf dan merapatkannya, dan menghilangkan adanya celah, begitu pula membetulkan shaf agar tidak terlalu ke depan dan tidak terlalu ke belakang. (Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr, Syarh Sunan Abi Daud, 12/456)

4. Kepada orang yang berada di shaf pertama shalat berjamaah
Dari Al Bara bin ‘Azib Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
Sesungguhnya Allah dan malaikatNya bershalawat kepada orang-orang yang berada pada shafpertama. (HR. Abu Daud No. 664, Ahmad No. 18516, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al AwsathNo. 7206, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 20640, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 3825, Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 4175, Ibnu ‘Asakir dalamAl Mu’jam No. 1548, Ibnu Khuzaimah No. 1557)
 Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan: hasan. (Al Khulashah Al Ahkam, 2/707). Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih. (Ta’liq Musnad Ahmad No. 18516). Syaikh Al Albani mengatakan: shahih. (Shahih wa Dhaif Abi Daud No. 664)

Kenapa shaf pertama mendapatkan keutamaan ini ? Imam Badruddin Al ‘Aini Rahimahullahmenjelaskan:
Karena orang yang berada pada shaf pertama, dinilai sebagai orang yang bersegera dan cepat tanggap, maka bagi merekalah mendapatkan keutamaan menyusul dan mendekat kepada imam, dan di antara mereka dan kiblat tidak ada seorang pun yang menghalanginya. Kemudian, pujian ini adalah pujian untuk shaf yang berada pada barisan setelah imam, sama saja apakah dia datangnya awal waktu atau terlambat. (Imam Al ‘Aini, Syarh Sunan Abi Daud, 3/232)
Hal ini juga sejalan dengan hadits lainnya, dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa NabiShallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
Sebaik-baiknya shaf kaum laki-laki adalah yang pertama, dan yang paling buruk adalah yang terakhir. Sebaik-baiknya shaf wanita adalah yang terakhir, dan yang terburuk adalah yang pertama.(HR. Muslim No. 440)

5. Kepada orang yang berada di shaf sebelah kanan shalat berjamaah
Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
Sesungguhnya Allah dan malaikatNya bershalawat kepada orang yang berada di sebelah kanan shaf. (HR. Abu Daud No. 676, Ibnu Majah No. 1005, Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No. 3980, Ibnu Hibban No. 2160)

Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: hasan. (Fathul Bari, 2/213). Imam An Nawawi mengatakan: sesuai syarat Imam Muslim. (Al Khulashah Al Ahkam, 2/710). Imam Al Munawi mengatakan:shahih. (At Taisir, 1/532)
Keutamaan ini menurut zahirnya berlaku untuk semua shaf sebelah kanan, bukan hanya shaf yang pertama. Tidak ada keterangan khusus menyebutnya “kanan shaf pertama.”
Imam Al Munawi Rahimahullah menjelaskan:
Yaitu mereka memohonkan ampun bagi orang yang berada di sebelah kanan imam dari semua shaf.(Ibid)
Imam Abu Thayyib Syamsul ‘Azhim Abadi Rahimahullah menjelaskan pula:
Pada hadits ini disunahkan untuk berada pada shaf bagian kanan, baik yang awal dan shafsetelahnya. (‘Aunul Ma’bud, 2/263)
Kenapa sebelah kanan? Imam Al ‘Aini Rahimahullah menjawab secara sederhana:
Karena bagian kanan memiliki keutamaan lebih dibanding kiri dalam segala hal. (Imam Al ‘Aini,Syarh Sunan Abi Daud, 3/228)
Tetapi jika ada yang berada pada shaf pertama, dan juga bagian kanan, maka itu lebih baik lagi sebab dia mengumpulkan dua keutamaan, dan posisinya pun lebih dekat dengan imam juga lebih utama.
Berkata Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin Rahimahullah:
Yakni di bagian paling kanan shaf, maka bagian paling kanan adalah lebih utama, tetapi mendekat dengan imam adalah lebih utama dibanding yang jauh walau dia di sebelah kanan. (Syarh ‘Umdah Al Ahkam, 12/4. Asy Syabakah Al Islamiyah)