"Ya Rabb-ku, ampunilah aku, dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan, yang tidak dimiliki oleh seorangpun juga sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha pemberi’."
Sabtu, 25 Oktober 2014
Keutamaan Waktu Subuh
Dalam Alquran Allah SWT sering bersumpah dengan waktu, dari waktu fajar (subuh), dhuha, siang hari, sore, dan senja (ashar), hingga malam hari. Menurut para pakar tafsir, setiap benda atau sesuatu yang dijadikan objek sumpah oleh Allah terkandung di dalamnya dua makna.
Pertama, menunjukkan sesuatu itu penting atau terkandung kebaikan di dalamnya. Kedua, ia menjadi tanda atau penunjuk jalan bagi kekuasaan dan kebesaran Allah SWT yang mesti dipahami.
Dalam surah at-Takwir, Allah bersumpah dengan waktu subuh. “Dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (QS at-Takwir [81]: 18). Sumpah ini menarik. Dalam Alquran tidak ada benda tidak bernyawa dinyatakan “bernapas” (hidup), kecuali waktu subuh. Apa maknanya?
Mutawalli Sya’rawi memahami ayat ini sebagai tasybih, yakni analogi kedatangan agama Islam dengan waktu subuh. Subuh merupakan permulaan hari ketika cahaya [fajar] mulai bersinar. Subuh juga menyemburkan udara segar yang sangat berguna bagi kesehatan manusia.
Seperti waktu subuh, kedatangan agama Islam memulai kehidupan baru, menyibak kegelapan kelam jahiliyah. Dengan Islam, kehidupan bisa dimulai kembali dan manusia bisa bernapas lega dengan bimbingan dan petunjuk Alquran.
Karena bercahaya dan mengeluarkan udara segar, waktu subuh dipandang sebagai makhluk hidup, bernapas (bernyawa). Kalau pada malam hari pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan mengeluarkan racun (karbon dioksida), saat subuh (pagi hari), pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan mengeluarkan oksigen alias udara pagi yang bersih dan sejuk.
Napas waktu subuh itu berkah bagi manusia. Nabi Muhammad SAW pernah berdoa, “Allahumma barik li-ummati fi bukuriha” (Ya, Allah berikan keberkahan bagi umatku pada permulaan harinya.) (HR Abu Daud dan Thirmidzi).
Keberkahan waktu subuh itu berdimensi fisik dan nonfisik (spiritual). Dari sisi spiritual, dua rakaat shalat (sunah) fajar disebut oleh Nabi SAW, “lebih baik dari dunia dan segala isinya.” (HR Muslim).
Orang-orang terbaik dari generasi sahabat dan tabi’in (al-salaf al-shalih) tidak pernah tidur lagi setelah melakukan shalat Subuh. Mereka berzikir dan membaca wirid-wirid hingga matahari terbit. Tak lama setelah itu, mereka melaksanakan shalat Dhuha, kemudian mereka memulai kerja dan aktivitas.
Dari sisi fisik (duniawi), keberkahan (napas) waktu subuh itu dikaitkan dengan kesehatan, kemajuan ekonomi, dan kesuksesan dalam hidup. Rasulullah SAW pernah mengingatkan Fatimah al-Zahra, putrinya, agar tidak tidur lagi setelah shalat Subuh. (HR Baihaqi).
Pada kesempatan lain, Rasul juga mengingatkannya agar bangun pagi dan giat mencari rezeki. Sebagaimana sabdanya, “Bangunlah pagi hari untuk mencari rezeki dan kebutuhan-kebutuhanmu. Sesungguhnya, pada pagi hari terdapat berkah dan keberuntungan.” (HR Thabrani dan Al-Bazzar).
Dalam banyak penelitian diketahui, orang yang rajin bangun pagi, beribadah, dan berolahraga, ia lebih sehat (bugar), lebih produktif, dan memiliki peluang lebih besar meraih kesuksesan.
Bagi orang-orang yang tinggal di perkotaan, keberkahan waktu subuh itu sangat nyata. Tidak bangun pagi, berarti petaka. Telat pergi ke kantor, stres di jalan karena macet, dan banyak energi terbuang percuma. Wallahu a’lam.
Republika
Kamis, 23 Oktober 2014
Hikmah Dibalik Karunia Sakit
Rasulullah bersabda : “Apabila seorang hamba mukmin sakit, maka Allah mengutus 4 malaikat untuk datang padanya.”
Allah
memerintahkan :
1. Malaikat pertama untuk mengambil kekuatannya sehingga menjadi lemah.
2. Malaikat kedua untuk mengambil rasa lezatnya makanan dari mulutnya.
3. Malaikat ketiga untuk mengambil cahaya terang di wajahnya sehingga berubahlah wajah si sakit menjadi pucat pasi.
4. Malaikat keempat untuk mengambil semua dosanya , maka berubahlah si sakit menjadi suci dari dosa.
1. Malaikat pertama untuk mengambil kekuatannya sehingga menjadi lemah.
2. Malaikat kedua untuk mengambil rasa lezatnya makanan dari mulutnya.
3. Malaikat ketiga untuk mengambil cahaya terang di wajahnya sehingga berubahlah wajah si sakit menjadi pucat pasi.
4. Malaikat keempat untuk mengambil semua dosanya , maka berubahlah si sakit menjadi suci dari dosa.
Tatkala
Allah akan menyembuhkan hamba mukmin itu, Allah memerintahkan kepada malaikat
1, 2 dan 3 untuk mengembalikan kekuatannya, rasa lezat, dan cahaya di wajah
sang hamba.Namun untuk malaikat ke 4, Allah tidak memerintahkan untuk
mengembalikan dosa-dosanya kepada hamba mukmin.
Maka
bersujudlah para malaikat itu kepada Allah seraya berkata : “Ya Allah mengapa
dosa-dosa ini tidak Engkau kembalikan?”
Allah menjawab: “Tidak baik bagi kemuliaan-Ku jika Aku mengembalikan dosa-dosanya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya ketika sakit. Pergilah dan buanglah dosa-dosa tersebut ke dalam laut.”
Allah menjawab: “Tidak baik bagi kemuliaan-Ku jika Aku mengembalikan dosa-dosanya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya ketika sakit. Pergilah dan buanglah dosa-dosa tersebut ke dalam laut.”
Dengan ini,
maka kelak si sakit itu berangkat ke alam akhirat dan keluar dari dunia dalam
keadaan suci dari dosa sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Sakit panas dalam
sehari semalam, dapat menghilangkan dosa selama setahun.”
“Tiada seorang mu’min yang ditimpa oleh lelah atau penyakit, atau risau fikiran atau sedih hati, sampaipun jika terkena duri, melainkan semua penderitaan itu akan dijadikan penebus dosanya oleh Allah” (HR Bukhari-Muslim).
“Tiada seorang mu’min yang ditimpa oleh lelah atau penyakit, atau risau fikiran atau sedih hati, sampaipun jika terkena duri, melainkan semua penderitaan itu akan dijadikan penebus dosanya oleh Allah” (HR Bukhari-Muslim).
Sakit, sebagaimana juga setiap ujian, bukan menguji
ketangguhan dan kemampuan. Sebab sakit Allah beri sudah sesuai dengan takaran dan
daya tahannya.
Ia sejatinya
menguji kemauan untuk memberi makna. Maka bagi dia yang mampu memberi makna
terbaik bagi sakit, insya Allah kemuliaannya diangkat dan membuat malaikat yang
selalu sehat takjub.
Sakit adalah
jalan kenabian Ayub yang menyejarah. Kesabarannya yang lebih dari batas
(disebut dalam sebuah hadits 18 tahun menderita penyakit aneh) diabadikan jadi
teladan semesta. Dan atas kenyataan sejarah tersebut, hari ini cobalah
bercermin kepadanya.
Hari ini
pula kita bisa bercermin kepada sosok-sosok mulia yang pernah juga sakit.
Sakit, yang di ujung penggal kehidupan mereka yang ditemukan adalah kemuliaan
serta terus bertambah derajat kemuliaanya di mata Allah SWT.
Imam
As-Syafi’i wasir sebab banyak duduk menelaah ilmu; Imam Malik lumpuh tangannya
dizhalimi penguasa; Nabi tercinta kita pun pernah sakit oleh racun paha kambing
di Khaibar yang menyelusup melalui celah gigi yang patah di perang Uhud.
Bukankah setelah akhirnya sakit, semuanya semakin mulia di mata Allah bahkan
juga di mata sejarah manusia.
Sakit itu
zikrullah. Mereka yang menderitanya akan lebih sering dan syahdu menyebut Asma
Allah dibanding ketika dalam sehatnya.
Sakit itu
istighfar. Dosa-dosa akan mudah teringat, jika datang sakit. Sehingga lisan
terbimbing untuk mohon ampun. Sakit itu tauhid. Bukankah saat sedang hebat rasa
sakit, kalimat thoyyibat yang akan terus digetar?
Sakit itu
muhasabah. Dia yang sakit akan punya lebih banyak waktu untuk merenungi diri
dalam sepi, menghitung-hitung bekal kembali. Sakit itu jihad. Dia yang sakit
tak boleh menyerah kalah; diwajibkan terus berikhtiar, berjuang demi
kesembuhannya.
Bahkan sakit
itu ilmu. Bukankah ketika sakit, dia akan memeriksa, berkonsultasi dan pada
akhirnya merawat diri untuk berikutnya ada ilmu untuk tidak mudah kena sakit.
Sakit itu
nasihat. Yang sakit mengingatkan si sehat untuk jaga diri. Yang sehat hibur si
sakit agar mau bersabar. Allah cinta dan sayang keduanya.
Sakit itu
silaturrahim. Saat jenguk, bukankah keluarga yang jarang datang akhirnya datang
membesuk, penuh senyum dan rindu mesra? Karena itu pula sakit adalah perekat
ukhuwah.
Sakit itu
gugur dosa. Barang haram tercelup di tubuh dilarutkan di dunia, anggota badan
yang sakit dinyerikan dan dicuci-Nya. Sakit itu mustajab doa. Imam As-Suyuthi
keliling kota mencari orang sakit lalu minta didoaka oleh mereka.
Sakit itu
salah satu keadaan yang menyulitkan syaitan; diajak maksiat tak mampu-tak mau;
dosa lalu malah disesali kemudian diampuni.
Sakit itu
membuat sedikit tertawa dan banyak menangis; satu sikap keinsyafan yang disukai
Nabi dan para makhluk langit.
Sakit
meningkatkan kualitas ibadah; rukuk-sujud lebh khusyuk, tasbih-istighfar lebih
sering, tahiyyat-doa jadi lebih lama.
Sakit itu
memperbaiki akhlak; kesombongan terkikis, sifat tamak dipaksa tunduk, pribadi
dibiasakan santun, lembut dan tawadhu.
Dan pada
akhirnya sakit membawa kita untuk selalu ingat mati. Mengingat mati dan bersiap
amal untuk menyambutnya, adalah pendongkrak derajat ketaqwaan. Karena itu
mulailah belajar untuk tetap tersenyum dengan sakit. Wallahu A’lam.
Sumber : Ustadz Arifin Ilham
Ambisi Utama Nabi Muhammad SAW
Tahukah Anda apa yang menjadi ambisi utama Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam selama hidupnya di dunia? Beliau tidak berambisi untuk menjadi orang kaya, ataupun menjadi penguasa atau raja apalagi menjadi selebritis atau artis. Samasekali tidak! Yang menjadi ambisi dan fokus perhatian beliau adalah bagaimana manusia di dunia menjadi orang beriman sehingga selamat di dunia dan di akhirat.
Bilamana Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam berinteraksi dengan para sahabatnya yang telah masuk Islam menjadi orang beriman, maka sedapat mungkin beliau akan mengingatkan mereka agar mensyukuri nikmat iman-Islamnya sehingga keimanan mereka kepada Allah subhaanahu wa ta’aala kian meningkat. Dan bila beliau berinteraksi dengan orang bukan muslim, maka sedapat mungkin dengan penuh cinta beliau ajak orang itu memeluk agama Allah subhaanahu wa ta’aala agar selamat di dunia dan di akhirat. Beliau tidak pernah melewatkan kesempatan untuk berda’wah. Sebab beliau merupakan rahmat bagi semesta alam.
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tidaklah kami mengutus
engkau (Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam) melainkan agar menjadi rahmat bagi semesta alam. ” (QS Al-Anbiyaa 107).
Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam tidak pernah berfikir agar dirinya sendiri yang merasakan manisnya iman-Islam. Beliau sangat ingin berbagi kenikmatan rahmat Allah subhaanahu wa ta’aala bersama orang lain. Beliau tidak pernah berpretensi bahwa dirinya semata yang berhak masuk surga. Tetapi beliau ajak sebanyak mungkin manusia agar bersama dirinya menikmati jannah.
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ
حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Sesungguhnya telah datang
kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu,
sangat
menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap
orang-orang mu’min.” (QS At-Taubah 128).
Sungguh, kita masih sangat jauh dari meneladani sikap beliau. Kita masih terlalu piawai dalam memberikan aneka alasan untukmengabaikan perintah Allah subhaanahu wa ta’aala, yakni berda’wah mengajak manusia ke jalan lurus Al-Islam. Kita masih membiarkan diri menjadi orang egois yang ingin masuk surga sendirian dan tidak peduli dengan orang lain. Apalagi jika orang lain itu adalah orang nonmuslim. Kadang kita beranggapan ”biarlah orang kafir masuk neraka.” Na’udzubillahi min dzaalika. Dengan dalih toleransi kita biarkan teman kerja, tetangga bahkan saudara kita sendiri, yang kebetulan non-muslim, tetap hidup dalam kesesatan di luar agama Allah subhaanahu wa ta’aala.
Penulis teringat sepuluh tahun yang lalu berkenalan dengan seorang muslim bule berkebangsaan Australia tinggal di Jakarta. Pada saat itu ia menyampaikan pengalaman pribadinya. Ia berkata: “Sebelum masuk Islam, saya sudah punya banyak kenalan orang Indonesia… tapi sayang, pak Ihsan, tidak ada seorangpun kawan saya saat itu yang pernah mengajak saya masuk Islam. Saya masuk Islam, Alhamdulillah, karena saya gemar membaca… hingga saya berjumpa dengan Al-Qur’an terjemahan bahasa Inggris…lalu memperoleh hidayah dari Allah subhaanahu wa ta’aala.”
Saat itu penulis samasekali tidak memiliki pretensi apapun atas ungkapan si kawan muslim Australia itu. Namun setelah mengikuti perjalanan da’wah dan mengamati kondisi ummat Islam di negeri tercinta, akhirnya kami sampai pada suatu kesimpulan bahwa apa yang dialami kawan bule itu bukan merupakan sebuah kasus khusus. Tampaknya itulah gambaran pada umumnya kondisi kita ummat Islam di Indonesia dalam mensikapi orang di luar Islam. Kita tidak pernah terfikir untuk mengajak mereka beriman bersama kita.
Selama ini kita beranggapan bahwa yang namanya kegiatan da’wah adalah sebatas kegiatan tausyiah antar sesama muslim. Itulah sebabnya bila kata ”da’wah” terdengar, maka yang segera terbayang adalah kegiatan Khutbah Jum’at atau Tabligh Akbar atau Majelis Ta’lim di masjid. Padahal semua kegiatan tersebut adalah kegiatan penyampaian tausyiah dari seorang muslim kepada pendengar sesama muslim. Lalu bagaimana nasib orang-orang di luar Islam? Apakah mereka tidak berhak menerima nasihat dan ajakan ke jalan Allah subhaanahu wa ta’aala? Di mana bukti pengakuan kita bahwa Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam merupakan teladan kita? Kalau Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam memiliki ambisi utama ingin melihat manusia beriman agar menjadi selamat di dunia dan di akhirat, lalu apa sesungguhnya ambisi utama kita?
Padahal ayat yang memerintahkan kita berda’wah bersifat umum. Ia tidak membatasi kita agar hanya mengajak sesama muslim. Tetapi ia bersifat terbuka. Artinya, hendaknya siapapun di muka bumi yang kita berinteraksi dengannya, maka hendaklah ia diajak kepada jalan al-haq (kebenaran) ini. Siapapun berhak merasakan manisnya iman-Islam sebagaimana kita selama ini merasakannya.
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
”Serulah (manusia) kepada jalan
Rabb-mu dengan hikmah/arif-bijaksana/wisdom dan pelajaran yang baik dan
bantahlah/beradu pendapatlah (dengan) mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Rabbmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat
dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(QS AnNahl ayat 125).
Setelah kita ajak ke jalan Allah subhaanahu wa ta’aala, maka sisanya kita serahkan kepada Allah. ”Sesungguhnya Rabbmu (Allah) lebih mengetahui tentang siapa yang (bakal tetap) tersesat dari jalan-Nya (setelah diajak) dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang (pantas) mendapat petunjuk.”
Eramuslim
Dzikir Sesudah Shalat Wajib
Ada sebagian muslim bilamana selesai mengerjakan sholat lima waktu langsung meninggalkan tempat sholatnya lalu berdiri untuk segera kembali meneruskan kesibukan duniawinya. Mereka tidak menyempatkan diri untuk berhenti sejenak membaca wirid ataupun bacaan-bacaan yang sesungguhnya dianjurkan dan dicontohkan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam.
Padahal terdapat banyak variasi wirid yang dicontohkan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam selepas beliau mengerjakan sholat lima waktu. Di antaranya:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ
الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا
أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ
الْجَدُّ
Apabila Nabi Muhammad shollallahu
’alaih wa sallam selesai dan salam dari sholat beliau mengucapkan: ”Tiada tuhan
yang berhak disembah selain Allah yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya.
BagiNya segala puji dan bagiNya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Ya Allah, tidak ada yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada
yang dapat memberi apa yang Engkau cegah. Kekayaan seseorang tidak berguna dari
ancamanMu.” (HR Bukhary 3/348).
Setidaknya dari wirid di atas ada tiga poin penting yang mengandung pengokohan kembali iman seseorang. Pertama, ia mengokohkan pengesaannya akan Allah subhaanahu wa ta’aala. Ia memperbaharui tauhid-nya, keimanannya bahwa hanya ada satu ilah di jagat raya ini dan bahwa ilah tersebut tidak memiliki sekutu apapun bersamaNya.
Kedua, ia mengokohkan keyakinannya bahwa sesungguhnya rezeqi seseorang sepenuhnya telah ditakar dan ditentukan terlebih dahulu oleh Allah subhaanahu wa ta’aala. Sehingga pembaharuan keyakinan ini akan membuat dirinya tetap rajin namun tidak ngoyo dalam mengejar rezeqi di dunia.
Ketiga, ia bahkan membebaskan dirinya dari faham materialisme. Suatu faham yang menganggap bahwa banyak-sedikitnya materi menentukan mulia-hinanya seseorang. Padahal sekaya apapun seseorang, maka sesungguhnya kekayaannya itu tidak dapat membebaskan dirinya dari ancaman serta siksaan Allah subhaanahu wa ta’aala bilamana ia tidak memenuhi hak Allah untuk disembah dan diesakan. Allah subhaanahu wa ta’aala bukanlah seperti kebanyakan fihak di dunia fana ini yang dengan mudah bisa disuap.
Ada lagi jenis wirid yang biasa Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam kerjakan sebagai berikut:
عَنْ
مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ
بِيَدِهِ يَوْمًا ثُمَّ قَالَ يَا مُعَاذُ إِنِّي لَأُحِبُّكَ فَقَالَ لَهُ
مُعَاذٌ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَنَا أُحِبُّكَ قَالَ
أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ أَنْ تَقُولَ
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى
ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Dari sahabat Mu’adz radhiyallahu
‘anhu bahwa Rasulullah menggandeng tangnnya dan bersabda: “Demi Allah, hai
Mu’adz, sesungguhnya aku mencintaimu.” Lalu beliau bersabda: “Aku berwasiat
kepadamu hai Mu’adz, jangan kau tinggalkan setiap selesai sholat ucapan: “Ya
Allah, berilah pertolongan kepadaku untuk berdzikir menyebut namaMu, syukur kepadaMu dan ‘ibadah yang baik untukMu.”(HR Ahmad 45/96).
Orang yang rajin membaca wirid di atas selepas sholat lima waktu tentu akan menjadi seorang mu’min yang senantiasa rendah hati dan hanya bergantung kepada Allah subhaanahu wa ta’aala. Sebab betapapun banyaknya aktivitas dzikir, bersyukur dan ber-ibadahnya namun dengan penuh kesadaran ia terus memohon hanya kepada Allah subhaanahu wa ta’aala untuk menjadikan dirinya selalu sanggup mengerjakan ketiga perkara mulia tersebut.
Bahkan ada jenis wirid yang menurut Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam bila dikerjakan seorang muslim selepas sholat lima waktu akan menyebabkan dirinya terjamin memperoleh ampunan Allah subhaanahu wa ta’aala atas segenap dosanya betapapun banyaknya dosa yang ia miliki:
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ
سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ
ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتْلِكَ تِسْعَةٌ
وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا
شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ (مسلم)
“Barangsiapa bertasbih kepada Allah
tigapuluh tiga kali setiap selesai sholat lalu bertahmid
kepada Allah tigapuluh tiga kali dan bertakbir
kepada Allah tigapuluh tiga kali maka itu adalah sembilanpuluh sembilan lalu
mengucapkan -sebagai penyempurna menjadi seratus- dengan “Tidak
ada ilah selain Allah tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segenap kerajaan dan
miliknya segenap puji-pujian. Dan Dia atas segala sesuatu Maha Berkuasa,
” niscaya dosa-dosanya diampuni meskipun seperti buih lautan.” (HR Muslim 3/262)
Tidak ada seorangpun manusia yang luput dari kesalahan dan dosa. Sehingga seorang muslim pastilah sangat berhajat akan ampunan Allah subhanaahu wa ta’aala agar dirinya selamat pada hari perhitungan kelak di akhirat.
Maka, saudaraku, sempatkanlah untuk membaca wirid-wird yang dianjurkan dan dicontohkan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam selepas sholat lima waktu. Jangan menjadi hamba dunia yang menyangka bahwa jika sudah selesai sholat yang penting adalah segera kembali mengerjakan kesibukan duniawinya. Padahal apalah artinya segenap dunia yang dikejar dibandingkan dengan kebaikan yang dijanjikan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam jika kita mau saja mengisi waktu sejenak selepas sholat wajib harian kita.
Eramuslim
Langganan:
Postingan (Atom)



