"Ya Rabb-ku, ampunilah aku, dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan, yang tidak dimiliki oleh seorangpun juga sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha pemberi’."
Kamis, 23 Oktober 2014
Kelakar Rasulullah SAW
Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib merupakan Rasulullah yang terakhir. Beliau selalu berbicara dengan penuh makna, dengan fasihah, dengan tenang, dengan penuh wibawa, dan dengan senyum.
Meski demikian, beliau kadang-kadang juga berkelakar dengan sahabat-sahabatnya. Tak lain tujuannya untuk membuat suasana akrab, hangat, dan segar. Beliau tak segan-segan melakukannya sepanjang tak mengabaikan hal-hal yang mendasar. Oleh karena itu, perlu diketahui bahwa kelakar beliau bukanlah kelakar kosong. Seperti halnya dalam pembicaraan lainnya, kelakar beliau pun mengandung “hikmah” positif bagi sahabat-sahabatnya.
Suatu ketika, salah seorang sahabat beliau bertanya, “Wahai Rasulullah. (Maaf) apakah Anda bergurau?” Spontan beliau menjawab, “Aku memang bergurau, akan tetapi apa yang aku ucapkan itu benar adanya” (Syamail al-Tirmidzi).
Dikisahkan, seorang pria datang kepada Rasulullah untuk meminta tunggangan. Kata beliau, “Aku akan membawakan untuk kamu seekor anak unta.” Pria tersebut mengira Rasulullah akan memberinya seekor anak unta yang kecil dan lemah. Dia pun berujar, “//Kok//, anak unta? Apa yang bisa kulakukan dengan anak unta yang kecil dan lemah?” Sambil tersenyum, Rasulullah bertanya, “Memangnya ada unta yang tidak ada induknya?” Lalu, dia berpikir, benar juga. Unta dewasa pun sejatinya anak dari induknya. Maka, dia pun tersipu.
Kisah lainnya dikabarkan seorang pria badui yang tak rupawan bernama Zahir rajin berjualan. Suatu hari, ketika dia tengah berjualan, seseorang mendekapnya dari belakang. “Lepaskan aku! Siapa ini?” kata Zahir sambil menoleh. Mengetahui yang mencandainya Rasulullah, dia pun berusaha menempelkan punggungnya ke dada beliau. Rasulullah berkata, “Siapa yang hendak membeli budak?” “Kalau begitu, aku tidak laku wahai Rasulullah?” Kata beliau, “Bukan begitu. Kamu laku di sisi Allah.”
Alkisah, suatu ketika seorang wanita mendatangi Rasulullah. Dia berkata, “Suamiku mengundang engkau, wahai Rasulullah.” Kata beliau, “Siapa namanya? Apakah, dia yang di kedua matanya ada putihnya?” Maka, respons Rasulullah tersebut sempat mengejutkan si wanita, “Apakah engkau pernah melihat suamiku?” tanyanya polos. Lalu dengan enteng Rasulullah mengatakan, “Memang ada mata yang tidak ada putihnya?”
Rasulullah juga dikabarkan pernah mencandai Anas RA dengan panggilan, “Hai, orang yang punya dua telinga!” Beliau juga kerap mencandai anak-anak. Di antara caranya dengan memegangnya dari belakang. Hal tersebut dilakukan karena beliau mencintai dan menyayangi anak-anak.
Rasulullah suka bergurau dan melucu dengan para bocah. Apa yang Rasul perbuat terhadap al-Hasan dan al-Husain sudah dikenal luas. Terhadap dua bocah tersebut beliau junjung, beliau cium, dan beliau biarkan menaiki punggungnya saat shalat.
Beliau juga sering melucu dengan Aisyah RA, istrinya, bahkan suatu saat beliau tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya. Maka, bila Anda hendak berkelakar, berkelakarlah secara wajar dan cerdas. Jangan berkelakar secara berlebihan. Apalagi, bertolakbe lakang dengan tuntunan al-Islam.
Republika
Selasa, 21 Oktober 2014
Sepuluh Alam jin menurut Al-Qur'an Dan Sunnah
DALAM buku yang berjudul “Alam Jin Menurut Al Qur’an dan As Sunnah”, Abdul Hakim menjelaskan sepuluh hal tentang alam jin menurut Al Qur’an dan Sunnah.
- PERTAMA
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka menyembah-Ku (Adz Dzaariyaat(51) : 56)
- KEDUA
وَأَنَّا مِنَّا الصَّالِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَلِكَ كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا
“Dan sesungguhnya di antara kami ada orang orang yang
shalih dan diantara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah
kami menempuh jalan yang berbeda beda.” (Al Jin(72) : 11).
Berkata Ust. Abdul Hakim : “Ada yang mukmin pengikut tariqah ahlus sunnah wal jama’ah menurut pemahaman salafush shalih, ada yang mukmin pengikut mu’tazilah dan ada yang mukmin pengikut ahlul bid’ah lainnya.
- KETIGA
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ
وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ السَّمُومِ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam)
dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi
bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang
sangat panas. (Al Hijr(15) : 26-27).
- KEEMPAT
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ
كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ
وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ
لِلظَّالِمِينَ بَدَلا
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah
kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari
golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu
mengambil dia dan keturunan keturunannya sebagai pemimpin selain
daripada Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu
sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang orang yang zalim.” (Al Kahfi(18): 50)
- KELIMA
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat,
“Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia
enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang orang yang
kafir.” (Al Baqarah(2) : 34).
Berkata Ust. Abdul Hakim, “Oleh karena itu apabila ada manusia yang memohon pertolongan kepada jin, maka ia membuat jin semakin sombong, takabur, dan besar kepala.”
- KEENAM
يَا بَنِي آدَمَ لا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ
أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا
لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ
حَيْثُ لا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ
لِلَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ
“Hai anak Adam, janganlah sekali kali kamu dapat
ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu
dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk
memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut
pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat
mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan setan itu pemimpin
pemimpin bagi orang orang yang tidak beriman.”(Al A’raaf(07): 27).
- KETUJUH
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي
يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا
إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ
الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا
سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ
النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
"Orang-orang yang makan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri, melainkan
seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan, lantaran (tekanan)
penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan
mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual-beli itu sama dengan
riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya, larangan dari Rabb-nya,
lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah
diambilnya dahulu ,(sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah)
kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu
adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya."(Al Baqarah(2) : 275)
- KEDELAPAN
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الإنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
“Dan bahwasannya ada beberapa orang
laki laki diantara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki
laki diantara jin, maka jin jin itu menambah bagi mereka dosa dan
kesalahan.” (Al Jin(72): 6).
Juga hadits yang merupakan do’a yang kita baca ketika masuk WC (yang artinya) : “Ya Allah aku berlindung kepada Mu dari jin yang laki laki dan yang perempuan”.
- KESEMBILAN
Pada footnote-nya disebutkan makanan jin diantaranya adalah tulang dan kotoran, makanan manusia yang tidak menyebut nama Allah, dan minuman yang terlarang.
- KESEPULUH
Maraknya tayangan tayangan tentang jin di media hanya memasyhurkan setan. Yang berakibat semakin membesarkan dan mengagungkan Iblis dengan penuh rasa takut. Oleh karena itu buku ini perlu sekali dibaca dan dipahami oleh kaum muslimin. Agar kaum muslimin memahami permasalahan tentang alam jin sesuai Al Qur’an dan Sunnah menurut pemahaman para shahabat.
Secara khusus, buku yang ditulis oleh Ustadz Abdul Hakim ini membantah buku yang telah terbit sebelumnya yang ditulis oleh seorang wartawan Mesir, dengan judul terjemahan Indonesia “Dialog dengan Jin Muslim”. Wartawan Mesir yang bernama Muhammad Isa Dawud ini mengambil semua khabar untuk bukunya dari Jin Muslim sahabatnya. Yang berakibat mementahkan argumentasi ilmiah
dalam beragama, dengan hanya merujuk dari perkataan Jin Muslim sahabatnya itu. Salah satu contohnya adalah penetapan suatu hadits itu sah atau tidak dengan hanya merujuk pada perkataan Jin Muslim sahabatnya itu.
Islampos
Para Syuhada Perang Uhud
Para syuhada Uhud adalah orang-orang dekat Rasul yang mulia. Allah telah melapangkan dada mereka untuk masuk Islam, maka mereka beriman kepada risalah beliau. Mukjizat-mukjizat beliau yang mereka lihat menambah keyakinan mereka. Maka kehidupan mereka pun berubah, mereka membentuk diri mereka menjadi pribadi-pribadi baru.
Mereka tinggalkan setiap perkara yang menentang syariat Allah di atas jalan Islam yang mulia. Kesenangan mereka adalah di dalam beribadah kepada Rabb mereka dan taat kepada Rasul-Nya. Tubuh mereka seperti tubuh kita, tersusun dari bahan yang sama. Tubuh kita dan tubuh mereka menjadi tempat hidupnya makhluk-makhluk Allah yang berupa organisme mikroskopik. Namun, ruh mereka bersih dan jiwa mereka besar . Tubuh mereka bekerja keras untuk menggapainya. Hal itulah yang membuat mereka menjadi generasi istimewa. Mereka bagaikan para pendeta di waktu malam dan penunggang kuda di waktu siang. Jika ada penyeru yang memanggil untuk berjihad, mereka tinggalkan segala sesuatu dibelakang mereka untuk mentaati Allah yang menciptakan mereka, dengan penuh keyakinan bahwa pahala yang ada di sisi Allah itu lebih baik dan lebih kekal. Bahkan, diantara mereka ada yang pergi berjihad dalam keadaan junub, mereka tidak sempat mandi janabah karena kuatnya keterikatan mereka untuk segera memenuhi panggilan jihad.
Para sahabat mulia yang berlaku shiddiq kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala itu mendapatkan ujian yang baik pada perang Uhud. Mereka mengangan-ngangankan mati syahid dengan penuh kejujuran dan beramal untuk mendapatkannya, maka Allahpun memilih mereka untuk diletakkan di sisi-Nya dan mengambil mereka sebagai syuhada’ dalam keadaan maju dan tidak mundur. Mereka beruntung mendapatkan keridhaan Allah san Jannah yang luasnya seluas langit dan bumi. Merekapun juga memiliki karomah-karomah yang besar, di antara karomah itu ada yang bias diketahui oleh manusia dan ad juga karomah yang lebih besar yang tidak dapat dimengerti oleh manusia.
Jabir bin Abdullah r.a berkata, “Pada malam hari menjelang terjadinya Perang Uhud, aku dipanggil ayahku, beliau berkata, “ Aku merasa bahwa aku akan menjadi orang yang pertama kali terbunuh diantara para sahabat Nabi SAW. Dan sepeninggalanku, aku tidak meninggalkan orang yang lebih penting dari dirimu selain Rasulullah SAW. Aku memiliki hutang, maka lunasilah hutang-hutang itu. Perlakukanlah saudara-saudara perempuan dengan baik. Dan benar, pada pagi harinya beliau menjadi orang pertama yang terbunuh. Beliau dikubur bersama orang lain dalam satu liang. Namun, aku merasa tidak nyaman membiarkan beliau dikubur bersama orang lain dalam satu liang, maka enam bulan kemudian aku membongkar kuburnya, dan aku mendapati keadaan jasadnya seperti ketika dulu aku menguburkannya.”(HR. Bukhari)
Dalam riwayat Ahmad disebutkan, “…Pada masa kekhilafan Mu’awiyah bin Abu Sufyan, ada seseorang yang mendekatiku seraya berkata, “ Wahai Jabir, para pekerja Mu’awiyah telah membangkitkan ayahmu (menggali kuburannya), hingga terlihat sebagian jasadnya.” Maka aku segera mendatanginya dan kudapati keadaan jasad beliau sama seperti aku menguburkannya, tidak berubah sama sekali… maka aku menimbunnya kembali.” (HR. Ahmad)
Jarir bin Abdullah r.a berkata, “ Ketika ayahku terbunuh pada Perang Uhud, Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Jabir, maukah aku beritahukan apa yang dikatakan Allah kepada ayahmu?” Jabir menjawab, “Iya.” Beliau bersabda, “Allah tidak mengajak bicara seseorang kecuali dari balik hijab, kecuali kepada ayahmu. Allah mengajak berbicara ayahmu dengan berhadap-hadapan, Dia berfirman, “Wahai Abdullah, berangan-anganlah, niscaya Aku penuhi.” Abdullah menjawab, “Wahai Rabbku, kembalikanlah aku ke dunia, sehingga aku terbunuh di jalanmu sekali lagi.” Allah berfirman, “Aku telah memutuskan bahwa seseorang yang telah mati tidak akan kembali ke dunia lagi.” Abdullah berkata, “Wahai Rabbku, kalu begitu kabarkanlah keadaanku kepada orang-orang yang ada di belakangku.” Maka Allah SWT menurunkan ayat,
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Rabbnya dengan mendapat rezki.”
Dalam riwayat Imam Malik dari Abdullah bin Abi Sha’sha’ah, disebutkan bahwa Amru bin Jamuh dan Abdullah bin Amru adalah dua orang dari golongan Anshar. Kuburan keduanya digali karena dilewati proyek aliran air. Mereka berdua dikuburkan dalam satu liang. Keduanya termasuk orang-orang yang mati syahid dalam Perang Uhud. Ketika kuburan mereka digali untuk dipindahkan ke tempat lain, keadaan mereka tidak berubah, seolah-olah mereka baru saja meninggal kemarin. Salah seorang dari mereka ada yang terluka, dia meletakkan tangannya pada lukanya tersebut dan dikuburkan dalam keadaan seperti itu. Ketika tangan itu ditarik dari lukanya, tangan itu kembali lagi seperti sedia kala. Padahal jarak antara Perang Uhud dan waktu penggalian kubur tersebut empat puluh enam tahun.
Al- Qurthubi
menyebutkan riwayat ini dengan judul ‘Bumi tidak akan memakan jasad para
syuhada’ karens mereka pada hakikatnya itu hidup. Kisah seperti itu
terdapat di dalam hadis-hadis shahih tentang para syuhada’ Uhud dan
selain mereka. Diriwayatkan bahwa ketika Mu’awiyah r.a ingin mengalirkan
air dari mata air di kota madinah melalui kuburan para syuhada Uhud,
beliau memerintahkan manusia untuk memindahkan jenazah keluarga mereka
yang dikubur disana. Peristiwa ini terjadi pada masa kekhilafan beliau,
yaitu lima puluh tahun setelah perang Uhud. Namun mereka mendapati
keadaan jasad mereka seperti mereka ketika dikuburkan, sampai-sampai
semua yang hadir melihat ketika sekop melukai kaki Sayyidus Syuhada’
Hamzah bin Abdul Muthalib, darahnya masih tetap mengalir
Pensyarah Aqidah Thahawiyah berkata, “Allah telah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi… adapun para syuhada’, di antara mereka ada yang disaksikan (jasadnya masih utuh) setelah beberapa tahun dari waktu dia dikuburkan. Ada kemungkinan jasadnya akan tetap kekal di dalam tanah hingga hari kiamat. Dan mungkin juga, jasadnya akan rusak bersama berlalunya waktu yang panjang. Seolah-olah-wallahu ‘alam -, semakin sempurna kesyahidan seseorang, maka orang yang mati syahid itu lebih utama dan kekekalan jasadnya akan lebih lama.”
Eramuslim
Minggu, 19 Oktober 2014
Keistimewaan Berbakti Kepada Orang Tua
"Bila kepada ibumu engkau berbakti, maka Allah yang
paling bersyukur Dia membalas amal baktimu dengan pahala yang amat besar
sekalipun amal yang kau lakukan minim, sangat sedikit "
1. Sebagai Penebus Dosa
Imam Tirmidzi dan Ibnu Hibban menyuguhkan sebuah riwayat
bersumber dari Abdullah bin Umar: Pada suatu ketika ada seorang lelaki datang
menghadap Rasuluilah, seraya berkata: "Ya Rasulallah, aku telah melakukan
dosa besar. Adakah taubatku masih bisa diterima?" Rasuluilah balik
bertanya:" Adakah ibumu masih hidup?" Dalam riwayat lain
diterangkan,bahwa Rasuluilah bertanya: "Adakah kamu masih memiliki kedua
orangtua?" Jawabnya: "Tidak, aku sudah tidak memiliki orangtua."
Lantas Rasulullah kembali bertanya: "Adakah kamu masih memiliki bibi
(saudara perempuan ibu)?" Jawabnya: "Ya, masih." Kemudian
Rasuluilah bersabda: "Sebagai tebusannya, berbaktilah kepada bibimu."
Dalam pandangan Islam, khalah (bibi) kedudukannya adalah sama dengan ibu
Ibnu Abbas pada suatu ketika bercerita kepada Atha' bin
Yasar, bahwa ada seorang lelaki datang menghadap kepadanya. Lelaki itu
bertanya: "Ya Ibn Abbas, aku telah melamar seorang wanita jelita. Tetapi
dia menolak lamaranku. Pada saat yang lain dia dilamar lelaki lain, dan lamaran
itu diterima. Hal tersebut membuat hatiku kalut dan cemburu, sehingga wanita
Itu aku bunuh. Ya Ibn Abbas, masihkah terbuka pintu taubat bagiku?" Ibnu
Abbas lalu bertanya: "Adakah ibumu masih hidup?" Jawabnya:
"Tidak, ibuku sudah meninggal." Selanjutnya Ibnu Abbas berkata:
"Bertaubatlah kepada Allah dan bertaqarrublah kepada-Nya dengan semaksimal
mungkin."
Dalam kisah di atas ditegaskan, bahwa kemudian Atha'
mengajukan pertanyaan kepada Ibnu Abbas: "Mengapa kamu menanyakan apakah
ibunya masih hidup atau sudah meninggal?" Jawab Ibnu Abbas: "Aku
belum pernah mengetahui suatu amalan pun yang lebih mendekatkan diri kepada
Allah selain daripada berbakti kepada ibu." Keterangan ini juga
diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalara kitab Al-Adahul-Mufrad, dan oleh Imam
Baihaqi dalam kitab Syu 'abul-lman.
Jadi, "berbakti kepada orangtua, pada dasarnya dapat
melebur dosa besar." Ini sejalan dengan riwayat yang dinuqil Imam Safarini
dalam kitab Syarah Manzhumatil Adab yang bersumber dari Imam Ahmad. Yakni
berbakti kepada orangtua dapat melebur dosa-dosa besar. Dan Imam Ahmad
menegaskan, bahwa keterangan ini berdasarkan apa yang dituturkan oleh Imam Ibnu
Abdil-Bar dari Makkhul.
2. Menambah Keberkahan Hidup
Rasulullah telah menghimbau dengan sabdanya:
"Barangsiapa ingin panjang umur dan beroleh rizki melimpah ruah, maka
hendaklah dia berbakti kepada orangtua dan menyambung tali persaudaraan."
(HR Imam Ahmad dari Anas bin Malik).
Rasulullah telah menegaskan, bahwa barangsiapa berbakti
kepada orangtua, maka dia akan memperoleh kebahagiaan panjang umur yang penuh
keberkatan.(HR. Imam Abu Ya'la dan Thabrani bersumber dari Mu'adz bin Jabal)
Imam Ibnu Majah dan Ibnu Hibban menyuguhkan sebuah riwayat
bersumber dari Tsauban, bahwa Rasulullah pada suatu ketika pernah menegaskan
bahwa seseorang adakalanya mendapat kesempitan ekonomi sebagai akibat dari dosa
yang dilakukan. Dan tidak ada yang dapat menolak takdir Allah kecuali doa,
serta tidak ada yang dapat menambah keberkatan umur kecuali dengan berbakti
kepada orangtua. Jadi, dalam konteks ini Rasulullah menggariskan, bahwa
kelapangan rizki serta keberkatan hidup dapat digapai dengan memperbanyak
taubat dan meningkatkan birrul-walidain.
Imam Hakim juga mengetengahkan sebuah riwayat yang bersumber
dari Abi Hurairah, bahwa Rasulullah telah berpesan, "Berbaktilah kepada
kedua orangtuamu, tentu anak-anakmu kelak akan berbakti kepadamu. Barangsiapa
dimintai maaf oleh saudaranya hendaklah dia memaafkannya, baik dia berada di pihak
yang benar maupun di pihak yang salah. Apabila dia tidak melakukannya, maka
kelak tidak akan dapat mendatangi telagaku di sorga."
Imam Thabrani meriwayatkan sebuah hadis bersumber dari
Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah pernah berpesan: "Berbaktilah kepada
orangtuamu, niscaya anak-anakmu akan berbakti kepadamu. Peliharalah kehormatan
istri orang lain, niscaya istrimu juga akan terpelihara dari perbuatan
tercela."
Jadi, orangtua adalah cermin masa depan anak. Bila dalam
rumahtangga terbina hubungan yang harmonis antar anggota keluarga, saling
memenuhi hak masing-masing serta saling menghormati, maka sudah barang tentu
anak-anak pun pada masa mendatang akan selalu menjunjung tinggi perintah
orangtua, memelihara dan menjaganya ketika sudah lanjut usia. Sebab pada awal
mulanya orangtua tersebut telah memberikan contoh langsung dalam bentuk
perbuatan berbakti kepada orangtua. Artinya, orangtua tersebut telah melakukan
birrul walidain di hadapan anak-anak, sehingga mereka tidak merasa berkeberatan
mengikuti jejak langkah orangtuanya. Kebiasaan dalam rumahtangga akan dibawa
oleh anak-anak dalam mengarungi jenjang rumahtangga baru. Karena itu suasana
damai, saling menghormati, dan penuh kasih harus diciptakan setiap saat. Cara
yang paling tepat adalah dengan memelihara dan memenuhi hak masing-masing.
Imam Nasai menyuguhkan sebuah riwayat bersumber dari Aisyah,
bahwa Rasulullah pernah bercerita: Ketika beliau memasuki sorga, mendengar
sebuah qiraah (bacaan Al-Qur'an). Beliau bertanya: "Siapa dia?"
Jawabnya: "Dia adalah Haritsah bin Nukman yang selalu berbakti kepada
ibunya." Suara merdu alunan kalam Ilahi tersebut sebagai balasan atas
kebaikannya dalam berbakti kepada orangtua. Dan memang Haritsah bin Nukman
seorang yang paling berbakti kepada orangtua, sehingga memperoleh kedudukan
serta derajat tinggi di sorga.
Pada suatu ketika ada seorang lelaki datang kepada Abi
Darda', lalu bercerita. Dalam ceritanya dia berkata: "Ayahku hingga kini
masih selalu mengatur diriku, sekalipun aku sudah dinikahkan. Bahkan sekarang
memerintahkan kepadaku agar menceraikan istriku." Abi Darda' mendengar
pengaduan lelaki tersebut langsung berkata: "Aku bukan termasuk model
orang yang akan menyuruh kamu mendurhakai orangtua, dan bukan pula orang yang
memerintahkan kepadamu untuk menceraikan istri. Tetapi kalau kamu bersedia
mendengarkan, aku akan menyampaikan sesuatu yang pernah aku dengar dari
Rasulullah. Beliau pernah bersabda: "Ayah adalah pintu sorga yang paling
tengah. Maka bila kamu mau, peliharalah pintu itu. Dan jika tidak, maka
tinggalkanlah." Demikian Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dalam kitab
Shahihnya.
Imam Baidhawi menjelaskan tentang maksud hadis di atas,
bahwa amal perbuatan yang paling tepat untuk dijadikan sarana masuk sorga,
serta jalan yang paling tepat untuk meraih derajat yang mulia dan kedudukan
yang luhur di dalam sorga, adalah berbakti kepada kedua orangtua, menghormati,
menyantuni, dan memelihara serta mengendalikan diri jangan sampai menyinggung
apalagi menyakiti perasaan maupun badannya.
Imam Al-Hifni menegaskan, bahwa pengertian yang terkandung
dalam hadis tersebut adalah bahwa taat dan berbakti kepada orangtua merupakan
penyebab yang mengantar seseorang masuk pintu sorga yang paling utama, dan
bersukaria di dalamnya. Jadi, yang dimaksud: Ayah adalah pintu sorga yang
paling tengah bukanlah suatu pengertian kongkrit. Tetapi sejalan dengan sebuah
riwayat hadis marfu'yang menegaskan: "Pintu sorga yang paling tengah
selalu terbuka bagi mereka yang berbakti kepada kedua orangtua.
Barangsiapa berbakti kepada kedua orangtua, baginya
dibukakan pintu sorga. Dan barangsiapa durhaka kepada kedua orangtua, maka
pintu sorga tertutup buatnya." Jadi, sorga hanya diberikan kepada
seseorang yang berbakti kepada orangtua. Dan pintu neraka terbuka luas bagi
mereka yang mendurhakainya. Demikian Ibnu Syahin mengetengahkan sebuah riwayat
dalam kitab At-Targhib, dan Imam Dailami dalam kitab Musnadul-Firdaus.
Keberkatan hidup, kebahagiaan lahir batin bagi seseorang
sangat tergantung pada bagaimana dia menyikapi terhadap orangtua. Semakin
tinggi tingkat ketaatan dan kebaktiannya, maka keberkatan hidup yang semakin
luas pun menyertainya.
Semoga kita semua dapat memahami dan mengamalkan teladan
dari kisah-kisah sahabat yang semuanya diriwayatkan dalam hadist Nabi SAW,
Aamiin Yaa Robbal 'aalamiin..
Langganan:
Postingan (Atom)



