رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لا يَنْبَغِي لأحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ


"Ya Rabb-ku, ampunilah aku, dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan, yang tidak dimiliki oleh seorangpun juga sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha pemberi’."

Senin, 06 Oktober 2014

Akhirat Jauh Lebih Berharga Daripada Dunia dan Seisinya




Suatu hari ‘Umar bin Khaththab r.a. menemui Rasulullah SAW di kamar beliau, lalu ‘Umar mendapati beliau tengah berbaring di atas sebuah tikar usang yang pinggirnya telah lapuk. Jejak tikar itu membekas di belikat beliau, sebuah bantal yang keras membekas di bawah kepala beliau, dan jalur kulit samakan membekas di kepala beliau. Di salah satu sudut kamar itu terdapat gandum sekitar satu gantang. Di bawah dinding terdapat qarzh (semacam tumbuhan untuk menyamak kulit).

Air mata ‘Umar bin Khaththab r.a. meleleh. Ia tidak kuasa menahan tangis karena iba dengan kondisi pimpinan tertinggi umat Islam itu. Rasulullah SAW melihat air mata ‘Umar r.a. yang berjatuhan, lalu bertanya “Apa yang membuatmu menangis, Ibnu Khaththab?” Umar r.a. menjawab dengan kata-kata yang bercampur-aduk dengan air mata dan perasaannya yang terbakar,
“Wahai Nabi Allah, bagaimana aku tidak menangis, sedangkan tikar ini membekas di belikat Anda, sedangkan aku tidak melihat apa-apa di lemari Anda? Kisra dan Kaisar duduk di atas tilam dari emas dan kasur dari beludru dan sutera, dan dikelilingi buah-buahan dan sungai-sungai, sementara Anda adalah Nabi dan manusia pilihan Allah!”

Lalu Rasulullah SAW menjawab dengan senyum tersungging di bibir beliau, “Wahai Ibnu Khaththab, kebaikan mereka dipercepat datangnya, dan kebaikan itu pasti terputus. Sementara kita adalah kaum yang kebaikannya ditunda hingga hari akhir. Tidakkah engkau rela jika akhirat untuk kita dan dunia untuk mereka?”

‘Umar menjawab, “Aku rela.” (HR. Hakim, Ibnu Hibban dan Ahmad) Dalam riwayat lain disebutkan: ‘Umar berkata, “Wahai Rasulullah, sebaiknya Anda memakai tikar yang lebih lembut dari tikar ini.”

Lalu, Rasulullah SAW menjawab dengan khusyuk dan merendah diri, “Apa urusanku dengan dunia? Perumpamaan diriku dengan dunia itu tidak lain seperti orang yang berkendara di suatu hari di musim panas, lalu ia berteduh di bawah sebuah pohon, kemudian ia pergi dan meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi)

Betapa Rasulullah SAW sangat sederhana. Ia menyadari bahwa akhirat jauh lebih berharga daripada dunia dan seisinya.

“Barang siapa menjadikan akhirat sebagai tujuannya maka Allah SWT akan membuat baik semua urusannya, dan menjadikan kekayaan dalam hatinya, dan dunia akan datang dengan mudah. Barang siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka Allah akan mencerai beraikan urusannya, menjadikan kefakiran ada di depan matanya, dan dunia tidak akan datang kepadanya, kecuali sebatas yang telah ditentukan.”
 
Rasulullah SAW bersabda : “Menjauhi kesenangan dunia lebih pahit rasanya daripada pahitnya brotowali dan lebih menyakitkan daripada sabetan pedang di medan perang. Tiada seorangpun yang menjauhinya, melainkan akan dianugerahi Allah SWT pahala yang sama seperti yang diberikan Nya kepada para syuhada. Cara menjauhi kesenangan duniawi adalah dengan sedikit makan dan tidak terlalu kenyang serta tidak suka dipuji orang lain. Barang siapa yang suka dipuji orang, berarti dia menyukai dunia dan kesenangannya. Oleh karena itu, barang siapa yang ingin meraih kesenangan yang hakiki hendaklah menjauhi keduniawian dan pujian orang lain”(HR. Dailami)
Wallahu ‘alam



Sarkub

Al-Qamah Dan Cinta Seorang Ibu





“Wahai sahabat Muhajirin dan Anshar, sesiapa mengutamakan istrinya daripada ibunya, dia akan dilaknat oleh Allah, dan semua ibadahnya tidak diterima Allah.” 
Al-Qamah adalah sahabat Nabi SAW yang baik dan pemuda yang sangat rajin beribadah. Pada suatu hari, ia sakit keras. Istrinya menyuruh seseorang memberi kabar kepada Rasulallah SAW tentang keadaan suaminya yang sakit keras dan dalam keadaan sakratul maut. Lalu Rasulallah SAW menyuruh Ali, Bilal RA, dan dan beberapa sahabat lainya melihat keadaan Al-Qamah. 

Begitu mereka sampai di rumah Al-Qamah, mereka melihat keadaanya sudah kritis. Maka kemudian mereka segera membantunya membaca kalimah syahadat, tetapi lidah Al-Qamah tidak mampu mengucapkannya.Bilal lalu menceritakan kepada Nabi segala hal yang terjadi atas diri Al-Qamah.
Lalu Rasulallah SAW bertanya kepada Bilal, “Apakah ayah Al-Qamah masih hidup?”
Bilal menjawab, “Tidak, ya Rasulallah, ayahnya sudah meninggal, tetapi ibunya masih hidup dan sangat tua usianya.”

Kemudian Rasulallah SAW berkata lagi, “Pergilah kamu, ya Bilal, menemui ibunya, sampaikan salamku, dan katakan kepadanya, kalau ia bisa datang menjumpaiku, datanglah. Kalau ia tidak bisa berjalan, katakan bahwa aku akan datang ke rumahnya menjumpainya.”

Ketika Bilal tiba di rumah ibu Al-Qamah, sang ibu mengatakan bahawa ia ingin menemui Rasulallah SAW. Lalu ia mengambil tongkat dan terus berjalan menuju rumah beliau.

Setibanya di rumah Rasulullah, ibu Al-Qamah memberi salam dan duduk di hadapan beliau.
Kemudian Rasulullah SAW membuka pembicaraan, “Ceritakan kepadaku yang sebenarnya ihwal anakmu, Al-Qamah. Jika kamu berdusta, niscaya akan turun wahyu kepadaku.”

Dengan rasa sedih ibunya bercerita, “Ya Rasulallah, sepanjang masa, aku melihat Al-Qamah adalah laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas, shalih, dan selalu melakukan perintah Allah dengan sempurna, sangat rajin beribadah. Shalat dan puasa tidak pernah ditinggalkannya, dan ia sangat suka bersedekah.

Ya Rasullah, aku membawa Al-Qamah sembilan bulan di perutku. Aku tidur, berdiri, makan, dan bernapas bersamanya. Ya Rasulallah, aku mengandungnya dalam kondisi lemah di atas lemah, tapi aku begitu gembira dan puas setiap aku rasakan perutku semakin hari semakin bertambah besar dan ia dalam keadaan sehat wal afiat dalam rahimku.

Kemudian tiba waktu melahirkanya. Ya Rasulallah, pada saat itu aku melihat kematian di mataku.
Hingga tibalah waktunya ia keluar ke dunia. Ia pun lahir. Aku mendengar ia menangis, maka hilang semua sakit dan penderitaanku bersama tangisannya.”

Ibu Al-Qamah mulai menangis, lalu ia melanjutkan ceritanya, “Kemudian, berlalulah waktu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Selama itu aku setia menjadi pelayannya yang tidak pernah lalai, menjadi pendampingnya yang tidak pernah berhenti. Aku tidak pernah lelah mendoakannya agar ia mendapat kebaikan dan taufiq dari Allah.

Ya Rasulallah, aku selalu memperhatikannya hari demi hari hingga ia menjadi dewasa. Badannya tegap, ototnya kekar. Kumis dan cambang telah menghiasi wajahnya. Pada saat itu aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan untuk mencari pasangan hidupnya.”

Ia melanjutkan ceritanya, “Tapi sayang, ya Rasulallah, setelah ia beristri, aku tidak lagi mengenal dirinya. Senyumnya, yang selama itu menjadi pelipur duka dan kesedihanku, telah hilang, dan tawanya telah tenggelam. Aku benar-benar tidak mengenalnya lagi, karena ia telah melupakanku dan melupakan hakku.

Aku tidak mengharap sesuatu darinya, ya Rasulallah. Yang aku harapkan hanya aku ingin melihat rupanya, rindu dengan wajahnya. Ia tidak pernah menghapiriku lagi. Ia tidak pernah menanyakan halku, tidak memperhatikanku lagi. Seolah-olah aku dibuang di tempat yang jauh.

Ya Rasulallah, aku ini tidak meminta banyak darinya, dan tidak menagih kepadanya yang bukan-bukan. Yang aku pinta darinya, jadikan aku sebagai sahabat dalam kehidupannya. Jadikanlah aku sebagai pembantu di rumahnya, agar bisa juga aku bisa menatap wajahnya setiap saat. Sayangnya ia lebih mengutamakan istrinya daripada diriku dan menuruti kata-kata istrinya sehingga ia menentangku.”

Rasulallah SAW sangat terharu mendengar cerita ibu Al-Qamah. Kemudia beliau menyuruh Bilal mencari kayu bakar utuk membakar Al-Qamah hidup-hidup.

Begitu Ibu Al-Qamah mendengar perintah tersebut, ia pun berkata dengan tangisan dan suara yang terputus-putus, “Wahai Rasullullah, Tuan hendak membakar anakku di depan mataku? Bagaimana hatiku dapat menerimanya? Ya Rasulallah, walaupun usiaku sudah lanjut, punggungku bungkuk, tanganku bergetar, walaupun ia tidak pernah menghapiriku lagi, cintaku kepadanya masih seperti dulu, masih seperti lautan yang tidak pernah kering. Janganlah Tuan bakar anakku hidup-hidup.”
Rasulallah SAW bersabda “Siksa Allah itu lebih berat dan kekal. Karena itu jika engkau ingin Allah mengampuni anakmu itu, hendaklah engkau memaafkannya….”

Kemudian ibu Al-Qomah mengangkat kedua tangannya dan berdoa, “Ya Rasullullah, aku bersaksi kepada Allah, dan bersaksi kepadamu, ya Rasullullah, mereka-mereka yang hadir di sini, bahwa aku aku telah ridha kepada anakku, Al-Qamah.”

Lalu Rasulallah SAW berkata kepada Bilal RA, “Pergilah kamu, wahai Bilal, dan lihat keadaan Al-Qamah.”

Bilal pun sampai di rumah Al-Qamah, dan tiba-tiba terdengar suara Al-Qamah menyebut, “La ilaha illallah.”

Lalu Bilal masuk sambil berkata, “Wahai semua orang yang berada di sini. Ketahuilah, sesungguhnya kemarahan seorang ibu kepada anaknya bisa membuat kemarahan Allah, dan ridha seorang ibu bisa membuat keridhaan-Nya.”

Al-Qamah wafat pada waktu dan saat yang sangat baik baginya.
Lalu Rasulallah SAW segera pergi ke rumah Al-Qamah.

Para sahabat memandikan, mengkafani, dan menshalatinya, diimami oleh Rasulallah SAW.
Sesudah jenazah dikuburkan, Nabi bersabda sambil berdiri di dekat kubur, “Wahai sahabat Muhajirin dan Anshar, sesiapa mengutamakan istrinya daripada ibunya, dia akan dilaknat oleh Allah, dan semua ibadahnya tidak diterima Allah.”
Wallahu ‘alam.


Sabtu, 04 Oktober 2014

Teladani Nabi Ibrahim




Kendati usia beliau semakin tua, Ibrahim AS tiada henti berdoa kepada Allah agar dianugerahkan anak yang saleh. Maka, pada akhirnya Allah mengabulkan doanya, yakni menganugerahkan seorang putra bernama Ismail AS.

Bagi Ibrahim, Ismail adalah buah hatinya. Bagi Ibrahim, Ismail mendatangkan kebahagiaan dalam hidupnya. Akan tetapi, di tengah-tengah kebahagiaan tersebut datanglah perintah Allah untuk menyembelih putranya itu.

Ibrahim dihadapkan pada dua pilihan, mengikuti perasaan hatinya atau menaati perintah Allah. Ibrahim harus memilih, mengedepankan kecintaan pada yang tinggi (al-mahabbatu al-ulya), yaitu kecintaan kepada Allah atau mengedepankan kecintaan pada yang rendah (al-mahabbatu al-adna), yaitu kecintaan kepada putranya.

Ibrahim menyadari, putranya adalah wujud anugerah Allah. Tapi, di sisi lain bisa saja keberadaannya menjelma menjadi pesaing-Nya. Yakni, apabila kecintaan kepadanya sama besar bahkan melebihi besarnya kecintaan kepada-Nya. Maka baginya, kehadiran putranya adalah ujian berat. Allah SWT mewahyukan kisah mulia ini dalam QS ash-Shaafat [37]: 100-102. :

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
Ya Rabb-ku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh'.

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ
Maka Kami beri dia khabar gembira, dengan seorang anak yang amat sabar.


فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
"Maka tatkala anak itu (Ismal) sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi, bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!'. Ia menjawab: 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah, kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar'.

 Dalam ayat itu, Ismail pun menjawab perintah berkurban yang datang lewat lisan ayahnya. Ismail berkata," Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".

Di dalam hidup ini, kita dihadapkan dengan “Ismail” kita masing-masing. “Ismail” kita itu bisa berupa putra/putri, suami/istri, dan lainnya. Bisa pula berupa harta, jabatan, popularitas, dan lainnya. Maka, waspadalah dengan “Ismail-Ismail” tersebut. Jangan sampai kecintaan kita pada yang rendah (al-adna) mengalahkan kecintaan kita pada yang tinggi (al-ulya).

Menurut Ibnu Katsir, mengutip keterangan dari Abu Hurairah RA, saat Ibrahim diperintah menyembelih Ismail dengan sigap setan memprovokasi Ibrahim dan keluarganya agar mereka mengabaikan perintah Allah. Namun, Ibrahim dan keluarganya berhasil meredam pengaruh setan tersebut.

Mengingat begitu monumentalnya peristiwa itu maka diabadikanlah dalam salah satu prosesi haji, yaitu melontar jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah di Mina. Berada di tengah lautan manusia saat di jamarat, setiap jamaah haji akan merasakan kedekatan dengan-Nya.

Kelugasan Ibrahim dan keluarganya menolak pengaruh setan itulah spirit yang semestinya dihayati jamaah haji saat melontar jumrah. Di Mina, saban tahun jutaan jamaah haji dari seluruh dunia telah menegaskan penolakan terhadap pengaruh setan.

Sayangnya, penolakan terhadap pengaruh setan itu hanya terjadi di Mina. Salah satu buktinya di Indonesia (negara paling banyak jamaah hajinya), hingga kini masih banyak terjadi tindak pidana korupsi, manipulasi, dan berbagai bentuk kejahatan lainnya.

Ironisnya, sebagiannya dilakukan oleh mereka yang sudah berhaji. Rupanya, sepulang berhaji bukan hanya tidak meneruskan penolakan terhadap pengaruh setan, akan tetapi malah menjadi kawan, bahkan hamba setan.

Bertepatan dengan musim haji ini, sebaiknya kita merenungkan kembali makna firman Allah dalam QS ash-Shaaffaat (37) ayat 102 dan 103–107. Kemudian, menindaklanjutinya dengan meneladani Ibrahim dan keluarganya.


Republika

Rahasia Pembuka Pintu Rezeki




Allah SWT menciptakan manusia dengan segala potensi yang dimilikinya, agar dengan potensi itu, manusia dapat berikhtiar untuk penghidupan saat ini (dunia) dan alam keabadian (akhirat).

Potensi yang mendorong manusia untuk mau berikhtiar, pada akhirnya akan membuahkan sebuah ‘hadiah’ yang kerap dinantikan yakni rezeki yang baik. Karena secara makro rezeki itu sifatnya luas, maka uang dan harta bukanlah satu-satunya sumber kebahagiaan bagi sebagian besar orang.

Mereka akan berbahagia dengan sempurna, manakala jasmani rohaninya sehat, hingga ia bisa bersama-sama dengan keluarganya. Ada pula yang tetap berbahagia hidup dalam kesederhanaan, meski sebenarnya ia sangat berkecukupan.

Dalam redaksi yang sungguh sempurna, Allah SWT berfirman,

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Sesungguhnya di sisi Allah pengetahuan yang tepat tentang hari kiamat. Dan Dia-lah jua yang menurunkan hujan, dan yang mengetahui dengan sebenar-benarnya tentang apa yang ada dalam rahim (ibu yang mengandung). Dan tiada seseorang pun yang betul mengetahui apa yang akan diusahakannya esok (sama ada baik atau jahat); dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi negeri manakah ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Amat Meliputi pengetahuan-Nya.” 
     QS Luqman 31: 34

Allah membuka ayat di atas dengan pengetahuan tentang hari kiamat, Dia menegaskan bahwa hanya benar-benar Zat-Nya saja yang Maha Mengetahui kapan waktu persis hari akhir itu akan tiba. Allah hanya menyebutkan di dalam firman-Nya yang lain bahwa kiamat akan datang dengan tiba-tiba (baghtah), dan peristiwa itu teramat berat baik bagi langit maupun bumi.

Selanjutnya, Allah memberikan perumpamaan fenomena alam berupa turunnya hujan, agar kita menyadari pada hakikatnya hujan adalah bentuk rahmat-Nya. Ketiga, Allah memberikan penegasan pula bahwa hanya Allah yang mengetahui dengan sebenarnya penghidupan dalam rahim seorang perempuan, terlepas dari kecanggihan teknologi ultrasonografi (USG) dua bahkan empat dimensi.

Keempat, Allah memberikan potensi kepada manusia untuk berikhtiar, namun dengan keterbatasan manusia yang tidak tahu apa yang akan terjadi padanya tempat, barang sedetik pun. Terakhir, penegasan-Nya tentang bagaimana, kapan, dan dimana setiap manusia akan menghabiskan jatah usianya.

Oleh karenanya, dalam kehidupan yang amat sementara ini, hendaknya kita menutup usia dengan ikhtiar menjemput rezeki. Rasulullah SAW telah menunjukkan banyak cara, yakni pertama, berbakti pada kedua orangtua, “Apabila hamba itu meninggalkan berdoa kepada kedua orang tuanya niscaya terputuslah rezeki (Allah) daripadanya.”(HR al-Hakim dan ad-Dailami)

Kedua, menyambung silaturahim, “Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dilambatkan ajalnya maka hendaklah dia menghubungi sanak-saudaranya.” (HR Bukhari)

Ketiga, tawakkal pada Allah, “Seandainya kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kamu diberi rezeki seperti burung diberi rezeki, ia pagi hari lapar dan petang hari telah kenyang.” (HR Ahmad, at-Tirmizi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, al-Hakim dari Umar bin al-Khattab RA)

Keempat, menyayangi anak yatim. “Adakah kamu suka hatimu menjadi lembut, dan kamu memperolehi hajat keperluanmu? Kasihanilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berikanlah dia daripada makananmu, niscaya lembutlah hatimu dan kamu akan memperolehi hajatmu.”(HR Tabrani)

Kelima, bertobat dengan sebenar-benarnya. “Wahai manusia, bertobatlah kepada Allah, sebelum kamu mati. Bersegeralah melakukan amalan-amalan salih sebelum kamu kesibukan dan hubungilah antara kamu dengan Tuhan kamu dengan membanyakkan sebutan (zikir) kamu kepada-Nya dan banyak bersedekah dalam bersembunyi dan terang-terangan, nanti kamu akan diberi rezeki, ditolong dan diberi kesenangan.” (HR Ibnu Majah)

Terakhir, perbanyak istighfar. “Barang siapa memperbanyak istighfar maka Allah SWT akan menghapuskan segala kedukaannya, menyelesaikan segala masalahnya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka.” (HR Ahmad, Abu Daud, an-Nasai, Ibnu Majah dan al-Hakim dari Abdullah bin Abbas RA).


Republika