رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لا يَنْبَغِي لأحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ


"Ya Rabb-ku, ampunilah aku, dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan, yang tidak dimiliki oleh seorangpun juga sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha pemberi’."

Selasa, 10 Mei 2016

Perjumpaan dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bertemu Sa’id bin al-Musayyah, lantas Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya memohon kepada Alah agar mengumpulkan aku dan kamu di pasar surga.” Sa’id bertanya, “Apakah di surga ada pasar?”

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Iya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bercerita kepadaku bahwa penduduk surga ketika telah masuk ke dalam surga, mereka tinggal di dalamnya berkat keutamaan amal perbuatannya, maka mereka diperkenankan kira-kira Hari Jumat sebagaimana hari-hari di dunia, mereka mengunjungi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah menampakkan singgasana-Nya kepada mereka. Dia nampak bagi mereka di salah satu pertamanan surga. Dibuatkan untuk mereka mimbar-mimbar dari cahaya, mimbar-mimbar dari mutiara, mimbar-mimbar dari permata, mimbar-mimbar dari emas, dan mimbar-mimbar dari perak. Orang yang paling rendah tingkatakannya –di dalam tidak ada yang hina- duduk di atas bukit misk (kasturi) dan kapur barus. Mereka tidak memandang bahwa yang mempunyai kursi lebih baik tempatnya daripada mereka.”

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu melanjutkan, “Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah! Apakah kita dapat melihat Rabb kita?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Iya. Apakah kalian ragu-ragu dapat melihat matahari dan rembulan pada malam purnama?’ Kami menjawab, “Tentu tidak.’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menambahkan, ‘Demikian pula kalian semua tidak ragu-ragu dapat melihat Rabb kalian Azza wa Jalla. Tidak ada seorang pun yang tersisa dari majelis tersebut melainkan diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga, Dia berkata kepada seseorang di antara kalian, ‘Wahai fulan! Apakah engkau ingat ketika engkau melakukan ini dan itu.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan sebagian kesalahan-kesalahan orang tersebut ketika di dunia. Lalu orang tersebut berkata, ‘Ya Rabbi, bukankah Engkau telah mengampuniku?’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Ya, telah Kuampuni. Lantaran keluasan ampunan-Ku, engkau dapat sampai pada kedudukanmu ini.’ Pada saat mereka dalam kondisi tersebut, tiba-tiba awan menyelubungi mereka dari atas, lalu awan tersebut menurunkan hujan yang baik kepada mereka. Mereka belum pernah menjumpai keharuman yang semisal keharuman tersebut. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Bangunlah menuju kemuliaan yang telah Kusediakan untuk kalian, lalu ambillah yang kalian kehendaki!’.”

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu melanjutkan kisahnya, “Lantas kami mendatangi pasar yang dikelilingi oleh para malaikat. Di dalamnya terdapat hal-hal yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbesit dalam hati. Lantas dibawakan untuk kita apa yang kita inginkan. Tidak ada sesuatu pun yang dijual di sana dan tidak perlu membeli. Di pasar itu para penduduk surga saling bertemu satu sama lain. Orang yang mempunyai kedudukan tinggi dapat bertemu orang yang kedudukannya lebih rendah –di dalam surga tidak ada yang hina- lalu dia terpikat dengan pakaian yang dilihatnya. Belum sampai selesai berbicara sehingga dia membayangkan pakaian yang lebih baik lagi. Hal ini lantaran tidak selayaknya seseorang bersedih hati di dalam surga. Selanjutnya kami kembali ke tempat kami masing-masing, lalu istri-istri kita menyambut kita seraya berkata, ‘Selamat datang… sungguh, engkau datang dengan ketampanan dan kebaikan melebihi daripada ketika engkau berpisah dengan kami tadi.’ Kami menjawab, ‘Sungguh, kami baru saja menghadap Rabb Kami Yang Maha Perkasa Subhanahu wa Ta’ala dan memastikan kami akan kembali sebagaimana kami telah kembali.”

Arrahman.com

Senin, 09 Mei 2016

10 Jenis Shalat Yang Tidak Diterima Allah SWT

RASULULLAH saw bersabda: “Islam dibangun di atas lima hal; bersaksi bahwa tidak ada sesembahan  yang berhak disembah dengan benar kecuali Allâh  dan Nabi Muhammad adalah utusan Allâh, menegakkan shalat….”  (HR Bukhâri dan Muslim).

Seorang Muslim tentu sudah paham betul bahwa sholat merupakan tiang dari dien ini. Oleh karena itu, ketika muadzin mengumandangkan adzan, kaum muslimin berbondong-bondong mendatangi rumah-rumah Allâh Ta’ala, mengambil air wudhu, kemudian berbaris rapi di belakang imam shalat mereka. Mulailah kaum muslimin tenggelam dalam dialog dengan Allâh Ta’ala dan begitu khusyu’ menikmati shalat sampai imam mengucapkan salam. Dan setelah usai, masing-masing kembali pada aktifitasnya.

Imam Hasan al-Bashri rahimahullâh pernah mengatakan: “Wahai, anak manusia. Shalat adalah perkara yang dapat menghalangimu dari maksiat dan kemungkaran. Jika shalat tidak menghalangimu dari kemaksiatan dan kemungkaran, maka hakikatnya engkau belum shalat”.

Dalam kesempatan lain, Rasulullah saw juga bersabda: “Barang siapa yang memelihara sholat, maka sholat itu sebagai cahaya baginya, petunjuk dan jalan selamat dan barangsiapa yang tidak memelihara sholat, maka sesungguhnya sholat itu tidak menjadi cahaya, dan tidak juga menjadi petunjuk dan jalan selamat baginya.” (Tabyinul Mahaarim).

Kemudian Rasulullah saw juga bersabda bahwa: “10 orang sholatnya tidak diterima oleh Allah swt, di antaranya:

1. Lelaki yang sholat sendirian tanpa membaca sesuatu.

2. Lelaki yang mengerjakan sholat tetapi tidak mengeluarkan zakat.

3. Lelaki yang menjadi imam, padahal orang yang menjadi makmum membencinya.

4. Lelaki yang melarikan diri.

5. Lelaki yang minum arak tanpa mau meninggalkannya (taubat).

6. Perempuan yang suaminya marah kepadanya.

7. Perempuan yang mengerjakan sholat tanpa memakai tudung.

8. Imam atau pemimpin yang sombong dan zalim menganiaya.

9. Orang-orang yang suka makan riba’.

10. Orang yang sholatnya tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan yang keji dan munkar.”

Sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa yang sholatnya itu tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan keji dan mungkar, maka sesungguhnya sholatnya itu hanya menambahkan kemurkaan Allah swt dan jauh dari Allah.” Hassan r. a berkata : “Kalau sholat kamu itu tidak dapat menahan kamu dari melakukan perbuatan mungkar dan keji, maka sesungguhnya kamu dianggap orang yang tidak mengerjakan sholat. Dan pada hari kiamat nanti sholatmu itu akan dilemparkan semula ke arah mukamu seperti satu bungkusan kain tebal yang buruk.”

Islampos.com

Bantulah Orang Yang Terlilit Hutang


UMAT Islam itu seperti satu kesatuan jasad. Jika ada bagian yang sakit, maka bagian yang lain akan merasakannya juga. Seperti itulah ukhuwah imaniyah yang digambarkan oleh Rasulullah SAW. Saling merasa. Saling pengertian. Saling memahami. Saling menolong. Saling membantu.

Ada orang miskin. Punya hutang lagi. Tentu, sebagai saudara seislam kita harus berbelas kasihan kepadanya. Namun berbelas kasihan saja terkadang tidak menyelesaikan masalahnya. Harus ditindak lanjuti dengan langkah yang lebih aplikatif. Membantunya agar terbebas dari hutangnya. Itu baru persaudaraan yang hakiki dalam Islam.

Umar bin Abdul Aziz menyampaikan pesan singkat kepada para pegawainya, “Bantulah orang-orang yang terlilit hutang!”

Lalu salah satu pegawainya ada yang menanggapinya, “Kami mendapati orang yang memiliki hutang, namun masih mempunyai tempat tinggal, pembantu, binatang kendaraan serta perkakas rumah tangga.”

“Umar membalas surat itu, “Seorang muslim itu harus mempunyai rumah untuk berteduh, pembantu yang membantunya sehari-hari, kuda untuk berjihad melawan musuh serta perabotan untuk rumahnya. Maka yang seperti itu jika memiliki hutang tetaplah seorang yang perlu dibantu.”

Islampos.com


Ketika Hati Terasa Sempit

KETIKA hati kita lapang, masalah apapun dapat kita hadapi dengan baik, pekerjaan seberat apapun dapat kita selesaikan, karena hati kita merasa lapang. Namun sebaliknya, jika hati terasa sempit, masalah sekecil apapun akan kita rasakan berat sekali, karena belum apa-apa hati kita tidak mampu menerimanya.

Itulah yang dirasakan Nabi Musa ketika beliau diberikan Allah tugas menjadi Rasul dan menghadapi Fir’aun, seorang raja yang sangat kejam, mengaku dirinya Tuhan sekaligus seorang yang pernah menjadi ayah tirinya dan telah memberinya naungan kehidupan sejak bayi hingga tumbuh menjadi pemuda kuat dan perkasa.

Nabi Musa merasa berhutang budi pada Fir’aun yang telah membesarkannya, dan ia merasa bersalah karena telah membunuh seorang Qibthi yang berkelahi dengan kaumnya Bani Israil, untuk membela. Namun ternyata kaumnya tersebut yang bersalah. Hingga membuatnya harus meninggalkan Mesir karena dikejar tentara Fir’aun yang akan menghukumnya.

Nabi Musa merasa berat memikul beban semua itu. Sebab itulah Nabi Musa memohon kepada Allah untuk melapangkan dadanya,

“Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku, (QS. Thaahaa, 20:25)

dan mudahkanlah untukku urusanku, (QS. Thaahaa, 20:26)

dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku, (QS. Thaahaa, 20:27-28)

di dalam tafsir Al Azhar dikatakan ketidakfasihan Nabi Musa dalam berbicara ini, dikarenakan ketika masih kecil dan berada dalam pengasuhan Fir’aun.

Suatu hari, Musa kecil merayap di lantai, menarik kaki kursi mahligai Fir’aun dengan tangannya yang mungil, maka goyahlah kaki kursi dan membuat Fir’aun yang duduk di singgasana hampir terjatuh. Riwayat tafsir lain mengatakan ketika Musa kecil duduk di pangkuan Fir’aun, lalu ditarik-tariknya janggut Fir’aun. Sebelumnya juga sudah ada tanda-tanda ganjil yang membuat Fir’aun curiga jangan-jangan anak inilah yang dikatakan tukang tenung kelak akan meruntuhkan kerajaannya, karena itu Fir’aun hendak membunuhnya.

Tetapi Asiyah, istri Fir’aun yang sangat menyayangi Musa mencegah niat buruk suaminya, dikatakannya Musa belum berakal, dan Fir’aun membantah kalau Musa sudah berakal. Maka diujilah Musa kecil dengan kedua hidangan, hidangan pertama berisi makanan lezat dan kedua berisi bara api, seketika Musa kecil hendak mengambil makanan lezat, pucatlah wajah Asiyah ketakutan, namun segera Malaikat Jibril mengalihkannya pada bara api hingga bara api yang diambilnya menyentuh mulut mengenai lidahnya. Akhirnya Musa tidak jadi dibunuh, namun sejak saat itu Musa tidak fasih berbicara. Setelah beliau menjadi Rasul, kurang lancar dalam berbicara inipun masih menyelimutinya, hingga Fir’aun mencemoohnya:

Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)? (QS. Az Zukhruf, 43:52)

Sadar akan kekurangannya, ia memohon kepada Allah untuk melepaskan kekakuan di lidahnya agar orang mengerti apa yang dikatakannya. Nabi Musa memohon Allah menjadikan Harun saudaranya sebagai asisten yang bisa membantunya dalam berbicara,

Kisah Musa ini menjadi pelajaran berharga untuk kita, jika kita menghadapi persoalan yang berat, maka memohonlah kepada Allah untuk melapangkan dada kita, sebagaimana yang dilakukan Musa a.s.

Memohon diberikan kemudahan dalam segala urusan dan apa yang menjadi ujian kita dalam kehidupan ini. Kepada-Nya kita memohon diberikan segala kekuatan.

Begitulah yang dilakukan para Rasul saat didera masalah, dihimpit kesulitan, atau merasa tak kuat menghadapi tantangan, para Rasul berdoa kepada Allah, dan doa itu pun dikabulkan-Nya, betapa nikmatnya menjadi hamba yang dekat dengan Allah.

Lewat berbagai kisah dalam Al Qur’an, Allah mendidik kita, ketika menghadapi ujian dalam kehidupan ini, hendaklah kita senantiasa memohon pertolongan-Nya dengan doa-doa terindah yang pernah diajarkan-Nya. Dengan berdoa, segala beban terasa ringan, segala keputusasaan menjadi hilang berganti dengan sayap-sayap pengharapan yang membumbung tinggi karena kita memohon pada Dzat yang Maha segala.

Doa adalah senjata kita ketika kita beriman dan yakin sepenuhnya pada Allah. Seperti sabda Rasulullah, “Doa itu adalah senjata orang yang beriman, tiang dari agama dan cahaya dari semua langit dan bumi. (H.r. Al Hakim)

Doa juga termasuk ibadah dan shalat itu sendiri bermakna doa. Dengan kekuatan doa, dapat menukar takdir yang tadinya buruk menjadi baik untuk kita. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Tidaklah yang menolak ketentuan Allah kecuali doa. Dan tidaklah yang menambah umur kecuali berbuat kebaikan. (H.r. Tarmidzi dan Ibnu Hibban)

Dari hadits di atas nyatalah benar terasa kasih sayang Allah, bahwa Ia senantiasa menguatkan kita dengan lebih dahulu mengakui ketidakberdayaan diri di hadapan-Nya. Dengan berdoa kita merasa dekat dengan-Nya.

Allah menuntun kita dalam berdoa, yaitu hendaklah terlebih dahulu kita bersuci, menghadap kiblat, memfokuskan pikiran hanya kepada Allah, memuji-Nya, bersyalawat untuk Rasul dan bersyalawat pula sesudah berdoa, adapun ketika kita berdoa dengan mengangkat kedua telapak tangan, hendaklah dengan rendah hati, suara yang lembut, rasa takut, penuh harap, khusyuk dan tidak melampaui batas. Dalam berdoa juga kita turut mendoakan orang mukmin, mencari waktu yang mustajab untuk berdoa. (menjelang berbuka puasa, hari Jumat, bepergian, dizalimi, dsb)

Cara berdoa pertama pilihlah saat yang baik, misalkan di tengah malam, saat hening sepi, ketika itu berdoalah dengan merendahkan diri kepada-Nya.

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas,

…… Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah dekat kepada orang yang berbuat kebaikan. (QS. Al A’Raaf, 7:55-56)

Takut akan murka-Nya dan penuh harap akan keridhaan-Nya.
Betapa banyak Allah ajarkan kita doa-doa dalam Kalam-Nya.

Namun jika kita teliti membaca kisah Rasul, betapa setiap detik kehidupannya baik di saat sendiri atau di tengah keramaian, baik dalam keadaan sedih ataupun gembira senantiasa membina kontaknya dengan Allah, beliau senantiasa mempertinggi mutu diri, mutu iman dan mutu kehidupan. Karena para Rasul itu senantiasa berbuat baik, sehingga doa-doa mereka mudah diijabah Allah, sebagaimana firman-Nya:

Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al A’Raaf, 7:56)
Ayat ini menegaskan makna yang terkandung dalam surat Al Baqarah, 2 ayat 105 yang artinya,
Allah memberikan rahmat-Nya kepada orang yang Dia kehendaki. Dan Allah pemilik karunia yang besar.
Orang yang senantiasa berbuat kebaikanlah yang dikehendaki Allah mendapat rahmat-Nya.

Namun jikalau doa-doa kita belumlah dikabulkan, bukanlah maknanya Allah tak sayang, sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Tidaklah seorang mukmin menengadahkan wajahnya (memohon) kepada Allah suatu permohonan, melainkan akan dikabulkan-Nya permohonan itu, atau dicepatkan-Nya memberikannya, atau disimpan-Nya untuk lain waktu.” (H.r. Imam Ahmad dan Al Hakim)

Ada yang lebih mengharukan saat kita mendengar sabda Rasul yang lainnya, mengapa doa kita belum juga dikabulkan-Nya.

“Sesungguhnya Allah itu hidup dan menawan. Malu jika hamba itu menengadahkan tangannya, lalu membiarkannya kosong tanpa meletakkan kebaikan dalam tangannya (mengabulkan doanya). (HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Al Hakim)

Karena itu, yakinlah doa-doa kita akan dikabulkan, sabar dan terus berusaha, karena yang paling berhak memilihkan kehidupan terbaik kita adalaha Allah. Khusyukkan hati kita dalam berdoa kepada Allah, membersihkan tubuh dan menghadap ke kiblat. Percaya dan tawakkal slalu pada-Nya.Hendaklah kita senantiasa sabar dan terus berusaha, karena yang paling berhak memilihkan kehidupan kita adalah Allah. Khusyukkan hati kita dalam berdoa kepada Allah, membersihkan tubuh, sehabis shalat dan menghadap ke kiblat. Percaya dan tawakkal slalu pada-Nya.