رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لا يَنْبَغِي لأحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ


"Ya Rabb-ku, ampunilah aku, dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan, yang tidak dimiliki oleh seorangpun juga sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha pemberi’."

Senin, 13 Oktober 2014

Raih Keberkahan Di Pagi Hari



Saudaraku, Islam ternyata sangat peduli dengan dinamika dan semangat beraktivitas di awal waktu. Setiap hari selalu diawali dengan datangnya waktu pagi. Waktu pagi merupakan waktu istimewa. Ia selalu diasosiasikan sebagai simbol kegairahan, kesegaran dan semangat. Barangsiapa merasakan udara pagi niscaya dia akan mengatakan bahwa itulah saat paling segar alias fresh sepanjang hari. Pagi sering dikaitkan dengan harapan dan optimisme. Pagi sering dikaitkan dengan keberhasilan dan sukses. Sehingga dalam peradaban barat-pun dikenal suatu pepatah berbunyi: ”The early bird catches the worm.” (Burung yang terbang di pagi harilah yang bakal berhasil menangkap cacing).

Dalam sebuah hadits ternyata Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam juga memberi perhatian kepada waktu pagi. Sehingga di dalam hadits tersebut beliau mendoakan agar ummat Islam peduli dan mengoptimalkan waktu spesial dan berharga ini.


Nabi shollallahu ’alaih wa sallam berdoa: “Ya Allah, berkahilah ummatku di pagi hari.” Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam biasa mengirim sariyyah atau pasukan perang di awal pagi dan Sakhru merupakan seorang pedagang, ia biasa mengantar kafilah dagangnya di awal pagi sehingga ia sejahtera dan hartanya bertambah.”  
(HR Abu Dawud 2239)

Melalui doa di atas Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam ingin melihat umatnya menjadi kumpulan manusia yang gemar beraktifitas di awal waktu. Dan hanya mereka yang sungguh-sungguh mengharapkan keberhasilan dan keberkahan-lah yang bakal sanggup berpagi-pagi dalam kesibukan beraktifitas. Oleh karenanya, saudaraku, janganlah kita kecewakan Nabi kita. Janganlah kita jadikan doa beliau tidak terwujud. Marilah kita menjadi ummat yang pandai bersyukur dengan adanya waktu pagi.  Marilah kita me-manage jadwal kehidupan kita sehingga di waktu pagi kita senantiasa dilimpahkan berkah karena kita didapati Allah dalam keadaan ber’amal.

Janganlah kita menjadi seperti sebagian orang di muka bumi yang membiarkan waktu pagi berlalu begitu saja dengan aktifitas tidak produktif, seperti tidur misalnya. Biasanya mereka yang mengisi waktu pagi dengan tidur menjadi fihak yang sering kalah dan merugi. Bagaimana tidak kalah dan merugi? Pagi merupakan waktu yang paling segar dan penuh gairah… Bila di saat paling baik saja seseorang sudah tidak produktif, bagaimana ia bisa diharapkan akan sukses beraktifitas di waktu-waktu lainnya yang kualitasnya tidak lebih baik dari waktu pagi hari…???

Maka, di antara kiat-kiat agar insyaAllah kita selalu memperoleh keberkahan di pagi hari adalah:

  • Pertama, jangan biasakan begadang di malam hari. Usahakanlah agar setiap malam kita bersegera tidur malam. Idealnya kita jangan tidur malam melebihi jam sepuluh malam. Kalaupun banyak tugas, maka pastikan mulai tidur  jangan lebih lambat dari jam sebelas. Kalaupun tugas sedemikian bertumpuknya, maka pastikan bahwa pukul duabelas tengah malam merupakan batas akhir kita masih bangun.

  • Kedua, pastikan bahwa sedapat mungkin kita bisa bangun di tengah malam sebelum azan Subuh untuk mengerjakan sholat tahajjud dan witir. Idealnya kita selalu berusaha untuk sholat malam sebagaimana Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam, yaitu sebanyak delapan rakaat tahajjud dan tiga rakaat witir. Namun jika tidak tercapai, maka kurangilah jumlah rakaatnya sesuai kesanggupan fisik dan ruhani sehingga minimal dua rakaat tahjjud dan satu rakaat witir. Tapi ingat, ini hanya dikerjakan bila kita terpaksa karena tidur terlalu  larut malam mendekati jam duabelas malam.  Yang jelas, usahakanlah setiap malam agar kita selalu bisa melaksanakan sholat malam (tahjjud plus witir). Karena Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjamin bahwa orang yang menyempatkan diri untuk bangun malam dan sholat malam, maka ia bakal memperoleh semangat dan kesegaran di pagi harinya. Dan sebaliknya, barangsiapa yang tidak menyempatkan diri untuk bangun dan sholat malam, maka di pagi hari ia bakal memiliki perasaan buruk dan  malas.

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bahwa Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Syetan akan mengikat tengkuk salah seorang di antara kamu apabila ia tidur dengan tiga ikatan. Syetan men-stempel setiap simpul ikatan atas kalian dengan mengucapkan: Bagimu malam yang panjang maka tidurlah. Apabila ia bangun dan berdzikir kepada Allah ta’aala maka terbukalah satu ikatan. Apabila ia wudhu, terbuka pula satu ikatan. Apabila ia sholat, terbukalah satu ikatan. Maka, di pagi hari ia penuh semangat dan segar. Jika tidak, niscaya di pagi hari perasaannya buruk dan malas.”  
(HR Bukhary 4/310)

  • Ketiga, pastikan diri tidak kesiangan sholat subuh. Dan khusus bagi kaum pria usahakanlah untuk sholat subuh berjamaah di masjid. Sebab sholat subuh berjamaah di masjid merupakan sarana untuk membersihkan hati dari penyakit kemunafikan.

Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Sesungguhnya sholat yang paling berat bagi kaum munafik adalah sholat isya dan subuh (berjamaah di masjid). Andai mereka tahu apa manfaat di dalam keduanya niscaya mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak-rangkak. (HR Muslim 2/123)

”Dan sungguh dahulu pada masa Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam tiada seorang tertinggal dari sholat berjama’ah kecuali orang-orang munafiq yang terang kemunafiqannya.” (HR Muslim 3/387)

  • Keempat, janganlah tidur sesudah sholat subuh. Segeralah isi waktu dengan sebaik-baiknya. Entah itu dengan bersegera membaca wirid atau ma’tsurat pagi atau apapun kegiatan bermanfaat lainnya. Barangkali bisa membaca buku, berolah-raga atau menulis buku atau bahkan berdagang sebagaimana kebiasaan sahabat Sakhru bin Wada’ah. Orang yang tidur di waktu pagi berarti menyengaja dirinya tidak menjadi bagian dari umat Islam yang didoakan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memperoleh berkah Allah di pagi hari. Ia menyia-nyiakan kesempatan berharga. Pagi merupakan saat paling berkualitas sepanjang hari. Alangkah naifnya orang yang sengaja membiarkan waktu pagi berlalu begitu saja tanpa aktifitas bermanfaat dan produktif. Tak heran bila Nabi shollallahu ’alaih wa sallam justru memobilisasi pasukan perangnya untuk berjihad fi sabilillah senantiasa di awal hari yakni di waktu pagi sehingga fihak musuh terkejut dan tidak siap menghadapinya.

Ya Allah, berkahilah kami di pagi hari selalu. Ya Allah, kami berlindung kepada Engkau dari kemalasan dan ketidakberdayaan dalam hidup kami, terutama di waktu pagi hari.


Eramuslim

Waktu Yang Mustajabah Untuk Berdoa


 

1.Sepertiga Akhir Malam
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya: Sesungguhnya Rabb kami yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga akhir malam, lalu berfirman ; barangsiapa yang berdoa, maka Aku akan kabulkan, barangsiapa yang memohon, pasti Aku akan perkenankan dan barangsiapa yang meminta ampun, pasti Aku akan mengampuninya".[Shahih Al-Bukhari, kitab Da'awaat bab Doa Nisfullail 7/149-150]
 
2.Tatkala Berbuka Puasa Bagi Orang Yang Berpuasa
Dari Abdullah bin 'Amr bin 'Ash Radhiyallahu 'anhu bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya: Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa pada saat berbuka ada doa yang tidak ditolak". [Sunan Ibnu Majah, bab Fis Shiyam La Turaddu Da'watuhu 1/321 No. 1775. Hakim dalam kitab Mustadrak 1/422. Dishahihkan sanadnya oleh Bushairi dalam Misbahuz Zujaj 2/17].
 
3.Setiap Selepas Shalat Fardhu
Dari Abu Umamah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang doa yang paling didengar oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, beliau menjawab.
"Artinya: Di pertengahan malam yang akhir dan setiap selesai shalat fardhu".[Sunan At-Tirmidzi, bab Jamiud Da'awaat 13/30.
 
4.Pada Saat Perang Berkecamuk
Dari Sahl bin Sa'ad Radhiyallahu'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya: Ada dua doa yang tidak tertolak atau jarang tertolak; doa pada saat adzan dan doa tatkala perang berkecamuk".[Sunan Abu Daud, kitab Jihad 3/21 No. 2540. Sunan Baihaqi, bab Shalat Istisqa' 3/360. Hakim dalam Mustadrak 1/189. Dishahihkan Imam Nawawi dalam Al-Adzkaar hal. 341.
 
5.Sesaat Pada Hari Jum'at
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu bahwa Abul Qasim Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya: Sesungguhnya pada hari Jum'at ada satu saat yang tidak bertepatan seorang hamba muslim shalat dan memohon sesuatu kebaikan kepada Allah melainkan akan diberikan padanya, beliau berisyarat dengan tangannya akan sedikitnya waktu tersebut". [Shahih Al-Bukhari, kitab Da'awaat 7/166. Shahih Muslim, kitab Jumuh 3/5-6]
Waktu yang sesaat itu tidak bisa diketahui secara persis dan masing-masing riwayat menyebutkan waktu tersebut secara berbeda-beda, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 11/203.
Dan kemungkinan besar waktu tersebut berada pada saat imam atau khatib naik mimbar hingga selesai shalat Jum'at atau hingga selesai waktu shalat ashar bagi orang yang menunggu shalat maghrib.
 
6.Pada Waktu Bangun Tidur Pada Malam Hari Bagi Orang Yang Sebelum Tidur Dalam Keadaan Suci dan Berdzikir Kepada Allah. 
Dari 'Amr bin 'Anbasah Radhiyallahu'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya: Tidaklah seorang hamba tidur dalam keadaan suci lalu terbangun pada malam hari kemudian memohon sesuatu tentang urusan dunia atau akhirat melainkan Allah akan mengabulkannya". [Sunan Ibnu Majah, bab Doa 2/352 No. 3924. Dishahihkan oleh Al-Mundziri 1/371 No. 595]
Terbangun tanpa sengaja pada malam hari.[An-Nihayah fi Gharibil Hadits 1/190]
Yang dimaksud dengan "ta'ara minal lail" terbangun dari tidur pada malam hari.
 
7.Doa Diantara Adzan dan Iqamah.
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya: Doa tidak akan ditolak antara adzan dan iqamah". [Sunan Abu Daud, kitab Shalat 1/144 No. 521. Sunan At-Tirmidzi, bab Jamiud Da'waat 13/87. Sunan Al-Baihaqi, kitab Shalat 1/410. Dishahihkan oleh Al-Albani, kitab Tamamul Minnah hal. 139]
 
8. Doa Pada Waktu Sujud Dalam Shala.
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Adapun pada waktu sujud, maka bersungguh-sungguhlah berdoa sebab saat itu sa'at tepat suatu do'a untuk dikabulkan". [Shahih Muslim, kitab Shalat bab Nahi An Qiratul Qur'an fi Ruku' wa Sujud 2/48] Yang dimaksud adalah sangat tepat dan layak untuk dikabulkan doa kamu.
 
9.Pada Saat Sedang Kehujanan.
Dari Sahl bin a'ad Radhiyallahu'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya: Dua doa yang tidak pernah ditolak; doa pada waktu adzan dan doa pada waktu kehujanan". [Mustadrak Hakim dan dishahihkan oleh Adz-Dzahabi 2/113-114. Imam An-Nawawi berkata bahwa penyebab doa pada waktu kehujanan tidak ditolak atau jarang ditolak dikarenakan pada saat itu sedang turun rahmat khususnya curahan hujan pertama di awal musim. [Fathul Qadir 3/340].
 
10.Pada Saat Ajal Tib.
Dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah mendatangi rumah Abu Salamah (pada hari wafatnya), dan beliau mendapatkan kedua mata Abu Salamah terbuka lalu beliau memejamkannya kemudian bersabda.
"Artinya: Sesungguhnya tatkala ruh dicabut, maka pandangan mata akan mengikutinya'. Semua keluarga histeris. Beliau bersabda: 'Janganlah kalian berdoa untuk diri kalian kecuali kebaikan, sebab para malaikat mengamini apa yang kamu ucapkan". [Shahih Muslim, kitab Janaiz 3/38]
 
11.Pada Malam Lailatul Qadar.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
"Artinya : Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar". [Al-Qadr : 3-5]
Imam As-Syaukani berkata bahwa kemuliaan Lailatul Qadar mengharuskan doa setiap orang pasti dikabulkan. [Tuhfatud Dzakirin hal. 56]
 
12.Doa Pada Hari Arafa.
Dari 'Amr bin Syu'aib Radhiyallahu'anhu dari bapaknya dari kakeknya bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Artinya : Sebaik-baik doa adalah pada hari Arafah". [Sunan At-Tirmidzi, bab Jamiud Da'waat 13/83. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Ta'liq alal Misykat 2/797 No. 2598]


Malaikat Juga Pergi Haji



SALAH satu ciptaan Allah Swt yang wajib kita imani keberadaannya adalah para malaikat. Tidak dikatakan beriman seseorang yang meragukan keberadaan malaikat apalagi mengingkarinya.
Kata malaikat (bahasa Arab) merupakan bentuk jamak dari malak yang artinya kekuatan. Mashdarnya al-alaukah yang artinya risalah atau misi.

Malaikat adalah mahluk ghaib yang senantiasa menyembah Allah Swt, tidak pernah durhaka kepada-Nya serta senantiasa melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka.
Allah Swt berfirman :

 وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ
لا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ
“Dan mereka berkata: “Tuhan yang Maha Pemurah Telah mengambil (mempunyai) anak”, Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan, Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya.”  
(QS. Al-Anbiya(21): 26-27)

Jika manusia terbuat dari tanah, jin terbuat dari api, maka malaikat terbuat dari cahaya. Seperti yang diterangkan dalam hadits Ummul Mu’minin ‘Aisyah r.a, dia mengatakan bahwasannya Rasulullah Saw bersabda,
“Malaikiat diciptakan dari cahaya.” 
(HR. Muslim).
Para malaikat sangat banyak jumlahnya. Langit yang sedemikian luasnya telah dipenuhi oleh para malaikat yang selalu beribadah kepada Allah. Sehingga jarak antara satu malaikat dengan malaikat lainnya tidak lebih dari 4 jari manusia.
Seperti yang dijelaskan dalam hadits Abu Dzar, dia mengatakan bahwasannya Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kalian lihat dan mendengar apa yang kalian tidak dengar. Bahwa langit itu bersuara dan ia berhak bila bersuara. Tiada (di langit) itu tempat (untuk) empat jari melainkan ada satu malaikat yang meletakkan dahinya untuk sujud kepada Allah.” 
(HR. Tirmidzi)

Ada fakta yang sangat menarik dari mahluk Allah Swt yang satu ini. Ternyata malaikat pun pergi haji seperti manusia. Bahkan malaikat terlebih dahulu melaksanakan ibadah haji jauh sebelum manusia melakukannya.
Jika manusia berhaji ke Ka’bah yang ada di Arab Saudi maka malaikat berhaji ke Baitul Makmur yang ada di langit ke tujuh.
Ketika Nabi Saw dimi’rajkan ke langit tujuh, maka beliau dibawa ke tempat yang bernama Baitul Makmur. Lalu Malaikat Jibril berkata pada beliau: “ ini adalah baitul makmur, setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat yang masuk ke dalamnya, ketika mereka keluar, yang akhir dari mereka tidak kembali lagi ke Baitul Makmur.” (HR. Muslim)
Baitul Makmur letaknya sejurus dengan Ka’bah yang ada di bumi. Seperti yang diterangkan dalam hadits Dari Qatadah dia berkata, diceritakan pada kami bahwa Rasulullah Saw bersabda:

 “Baitul Makmur adalah sebuah masjid yang ada di langit sejurus dengan Ka’bah. Seandainya Baitul Makmur itu jatuh niscaya menimpa Ka’bah. Setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat yang masuk ke dalamnya, ketika mereka telah keluar, mereka tidak pernah kembali ke Baitul Makmur.” 
( Ibnu Jarir, Fii Fatkh Al-Baari Juz 9 Hal. 493)

Jadi para malaikat berhaji hanya sekali seumur hidupnya. Dan penyelenggaraannya dilakukan setiap hari. Berbeda dengan manusia yang diperbolehkan untuk berhaji lebih dari satu kali. namun waktu pelaksanaannya harus menunggu bulan haji yang terjadi sekali dalam setahun.


Islampos

Ketika Rasulullah Mendengar Terompah Bilal Di Surga



Hamba yang paling dekat kepada Allah Yang Maha Esa, adalah orang yang paling dekat kepada ketaatan dan paling jauh dari kemaksiatan.

Suatau ketika, segolongan shahabat berdiri didepan pintu Amirul Mukminin Umar Ibn Khattab ra, meminta izin untuk masuk pada hari pertemuan saat muktamar diadakan setiap tahunnya oleh Amirul Mukminin. Mereka hendak masuk menemuinya.

Siapakah golongan shahabat itu? Apa kriteria shahabat yang diizinkan masuk oleh Amirul Mukminin? Dan apa sajakah keahlian mereka yang menyebabkan mereka dapat masuk menemui Amirul Mukminin Umar Ibn Khattab?

Mereka yang sudah berada di depan pintu itu, Abu Sufyan Ibn Harb, manan panglima perang Qurays, yang sudah masuk Islam, dan pernah memerangi Rasul shallahu alaihi wa sallam, dan kemudian mendapatkan hidayah. Ada Al-Absyamiy dari kalangan Bani Abdu Syams dari kalangan keluarga Arab yang paling tinggi nasabnya.Lalu, Suhail ibn Amr, juru bicara Arab, dan yang lainnya ada pula Al-Haritz ibn Hisyam. Mereka berdiri. Sedangkan disamping mereka ada Bilal ibn Rabbah, mantan budak belian berasal dari Abesinia, Shuhaib Ar-Rumiy dari bangsa Romawi, Salman al-Farisi dari negeri persia, dan Abdullah bin Mas’ud, mantan penggembala ternak, yang menjadi shahabat yang mulia dengan ilmunya.

Mereka mengerumuni pintu khalifah seraya meminta izin kepada Umar ra untuk masuk menemuinya. Orang yang diperbolehkan masuk adalah orang yang paling dekat kepada Allah. Kemudian sepuluh shahabat yang mendapatkan berita gembira dijamin masuk surga, lalu masuklah ahli Badr sesuai dengan kedudukan mereka, kemudian barulah orang lainnya yang dipilih.

Kemudian pengawal pribadi Umar bertanya: “Siapakah yang ada di depan pintu?”, ucapnya. Abu Sufyan menjawab, “Sampaikanlah kepad Amirul Mukminin bahwa aku ada disini”, cetusnya.

Selanjutnya pengawal itu bertanya,”Dan siapakah kalian?”. Mereka pun menyebutkan namanya masing-masing, dan kemudian pengawal kembali kepada Khalifah Umar ibn Khattab dan memberitahukan hal itu kepadanya.

Umar berkata, “Berilah izin kepada Bilal ibn Rabbah untuk masuk!” ujar Umar. Dan, Billal pun mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan pertemuan yang sudah disiapkan itu. “Suruh Shuhaib masuk,” ucap Umar. Tak lama Umar berkata, “Suruh Salman masuk”. Setelah itu, Umar berkata, “Ibnu Mas’ud masuk!”
Sesudah shahabat masuk semuanya, Abu Sufyan yang hidungnya terlihat mengembang, karena marah dan merasa mendongkol yang sangat, berkata, “Demi Allah yag tiada tuhan berhak disembah selain Dia, aku tidak mengira bila Umar membuatku lama menanti sesudah mereka masuk terlebih dahulu sebelumku.”
Mengapa hal itu terjadi? Sesungguhnya Abu Sufyan menimbang segala sesuatu dengan parameter jahiliyah. Ternyata sisa-sisa jahiliyah masih membekas dalam dirinya.

Sangat berbeda dengan Umar ra, maka parameter yang digunakannya berbeda dengan Abu Sufyan. Sesungguhnya Umar menilai segala sesuatu berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka saat itu juga Suhail ibn Amr, teman dekatnya yang cukup bijak, mengatrakn kepadanya, “Wahai Abu Sufyan, demi Allah, aku tidak peduli dengan pintu Umar dan izinnya. Akan tetapi, aku khawatir bila kita dipanggil pada hari Kiamat nanti, maka mereka masuk surga, sedangkan kita ditinggglkan, karena sesungguhnya mereka dan kita diseru, ternyata mereka lah yang menyambutnya, sedangkan kita mengingkari. Oleh karena itu, pantaslah bila mereka didahulukan, sedangkan kita dibelakangkan”.

Perhatikan bagaimana Umar ra menilai martabat manusia hanya berdasarkan paramater taqwa kepada Allah Ta’ala. Dalam pemerintahan Umar ra masih belum puas, kecuali bila Bilal harus diprioritaskan atas mereka semuanya, karena sesungguhnya Bilal adalah oran gylang lebih dahulu msuk Islam. Apakah kaum muslimin sudah lupa kalimat: “Ahad! Ahad!” sedang tubuh Bilal dijemur diatas padang pasir yang terik panasnya mendidih, dipukuli, diseret dengan kuda, dan didera dengan berbagai siksaan, sementara yang menyiksanya berkata, “Tinggalkanlah Tuhan sembahanmu!”, sedang Bilal hanya mengatakan, “Ahad! Ahad!”
Oleh karena itu, Bilal didahululkan, karena dia telah mengenal jalan menuju kepada Allah Azza Wa Jalla. Rasul shallahu alaihi wa sallam pernah memanggil Bilal, lalu bersabda :
“Hai Bilal, mengapa engkau mendahuluiku masuk surga? Sesungguhnya ketika aku msuk surga tadi malam (malam Isra’), aku mendengar suara terompahmu dihadapanmu”.

Bilal menjawab : “Wahai Rasulullah, tidaklah sekali-kali aku menyerukan adzan, melainkan terlebih dahulu aku melakukan shalat dua rakaat dan tidak sekali-kali aku mengalami hadast, melainkan aku berwudhu. sesudahnya, kemudian mengerjakan shalat dua rakaat sebagai kewajibanku kepada Allah”. Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, bersabda : “Karena kedua-duanya”. Dan, Billal tidak menjawab : “Karena aku punya harta, anak, dan kedudukan atau pangkat”.

Demikian itu, karena kedudukannya adalah taqwa kepada Allah, pangkatnya adalah kaliamt “la ilaaha illalloh”, dan bekalnya adalah kalimat “la haula wa laa quwwata illaa billaah” (tiada daya untuk menghindar dari kedurhakaan) dna tiada kekuatan (untuk melakukan ketaatan) kecuali dengan pertolongan Allah, dan kenderaannya adalah, “Aku beriman kepada Allah”. Wallahu’alam.


Islampos