رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لا يَنْبَغِي لأحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ


"Ya Rabb-ku, ampunilah aku, dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan, yang tidak dimiliki oleh seorangpun juga sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha pemberi’."

Sabtu, 23 Agustus 2014

Waktu Yang Utama Dan Mulia Untuk Berdoa




Bagi setiap muslim seharusnya memanfaatkan waktu-waktu yang utama dan mulia untuk berdoa agar mendapatkan kesuksesan, keberuntungan, kemenangan dan keselamatan. Adapun waktu- waktu mustajabah tersebut antara lain. 

1.Sepertiga Akhir Malam

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya: Sesungguhnya Rabb kami yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga akhir malam, lalu berfirman ; barangsiapa yang berdoa, maka Aku akan kabulkan, barangsiapa yang memohon, pasti Aku akan perkenankan dan barangsiapa yang meminta ampun, pasti Aku akan mengampuninya".[Shahih Al-Bukhari, kitab Da'awaat bab Doa Nisfullail 7/149-150]
 
2.Tatkala Berbuka Puasa Bagi Orang Yang Berpuasa 

Dari Abdullah bin 'Amr bin 'Ash Radhiyallahu 'anhu bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya: Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa pada saat berbuka ada doa yang tidak ditolak". [Sunan Ibnu Majah, bab Fis Shiyam La Turaddu Da'watuhu 1/321 No. 1775. Hakim dalam kitab Mustadrak 1/422. Dishahihkan sanadnya oleh Bushairi dalam Misbahuz Zujaj 2/17].
 
3.Setiap Selepas Shalat Fardhu 

Dari Abu Umamah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang doa yang paling didengar oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, beliau menjawab.
"Artinya: Di pertengahan malam yang akhir dan setiap selesai shalat fardhu".[Sunan At-Tirmidzi, bab Jamiud Da'awaat 13/30.
 
4.Pada Saat Perang Berkecamuk 

Dari Sahl bin Sa'ad Radhiyallahu'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya: Ada dua doa yang tidak tertolak atau jarang tertolak; doa pada saat adzan dan doa tatkala perang berkecamuk".[Sunan Abu Daud, kitab Jihad 3/21 No. 2540. Sunan Baihaqi, bab Shalat Istisqa' 3/360. Hakim dalam Mustadrak 1/189. Dishahihkan Imam Nawawi dalam Al-Adzkaar hal. 341.
 
5.Sesaat Pada Hari Jum'at 

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu bahwa Abul Qasim Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya: Sesungguhnya pada hari Jum'at ada satu saat yang tidak bertepatan seorang hamba muslim shalat dan memohon sesuatu kebaikan kepada Allah melainkan akan diberikan padanya, beliau berisyarat dengan tangannya akan sedikitnya waktu tersebut". [Shahih Al-Bukhari, kitab Da'awaat 7/166. Shahih Muslim, kitab Jumuh 3/5-6] 

Waktu yang sesaat itu tidak bisa diketahui secara persis dan masing-masing riwayat menyebutkan waktu tersebut secara berbeda-beda, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 11/203. 

Dan kemungkinan besar waktu tersebut berada pada saat imam atau khatib naik mimbar hingga selesai shalat Jum'at atau hingga selesai waktu shalat ashar bagi orang yang menunggu shalat maghrib.
 
6.Pada Waktu Bangun Tidur Pada Malam Hari Bagi Orang Yang Sebelum Tidur Dalam Keadaan Suci dan Berdzikir Kepada Allah. 

Dari 'Amr bin 'Anbasah Radhiyallahu'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya: Tidaklah seorang hamba tidur dalam keadaan suci lalu terbangun pada malam hari kemudian memohon sesuatu tentang urusan dunia atau akhirat melainkan Allah akan mengabulkannya". [Sunan Ibnu Majah, bab Doa 2/352 No. 3924. Dishahihkan oleh Al-Mundziri 1/371 No. 595]
Terbangun tanpa sengaja pada malam hari.[An-Nihayah fi Gharibil Hadits 1/190]
Yang dimaksud dengan "ta'ara minal lail" terbangun dari tidur pada malam hari.
 
7.Doa Diantara Adzan dan Iqamah 

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya: Doa tidak akan ditolak antara adzan dan iqamah". [Sunan Abu Daud, kitab Shalat 1/144 No. 521. Sunan At-Tirmidzi, bab Jamiud Da'waat 13/87. Sunan Al-Baihaqi, kitab Shalat 1/410. Dishahihkan oleh Al-Albani, kitab Tamamul Minnah hal. 139]
 
8. Doa Pada Waktu Sujud Dalam Shalat 

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Adapun pada waktu sujud, maka bersungguh-sungguhlah berdoa sebab saat itu sa'at tepat suatu do'a untuk dikabulkan". [Shahih Muslim, kitab Shalat bab Nahi An Qiratul Qur'an fi Ruku' wa Sujud 2/48] Yang dimaksud adalah sangat tepat dan layak untuk dikabulkan doa kamu.
 
9.Pada Saat Sedang Kehujanan 

Dari Sahl bin a'ad Radhiyallahu'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya: Dua doa yang tidak pernah ditolak; doa pada waktu adzan dan doa pada waktu kehujanan". [Mustadrak Hakim dan dishahihkan oleh Adz-Dzahabi 2/113-114. Imam An-Nawawi berkata bahwa penyebab doa pada waktu kehujanan tidak ditolak atau jarang ditolak dikarenakan pada saat itu sedang turun rahmat khususnya curahan hujan pertama di awal musim. [Fathul Qadir 3/340].
 
10.Pada Saat Ajal Tiba 

Dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah mendatangi rumah Abu Salamah (pada hari wafatnya), dan beliau mendapatkan kedua mata Abu Salamah terbuka lalu beliau memejamkannya kemudian bersabda.
"Artinya: Sesungguhnya tatkala ruh dicabut, maka pandangan mata akan mengikutinya'. Semua keluarga histeris. Beliau bersabda: 'Janganlah kalian berdoa untuk diri kalian kecuali kebaikan, sebab para malaikat mengamini apa yang kamu ucapkan". [Shahih Muslim, kitab Janaiz 3/38]
 
11.Pada Malam Lailatul Qadar 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
"Artinya : Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar". [Al-Qadr : 3-5]
Imam As-Syaukani berkata bahwa kemuliaan Lailatul Qadar mengharuskan doa setiap orang pasti dikabulkan. [Tuhfatud Dzakirin hal. 56]
 
12.Doa Pada Hari Arafah 

Dari 'Amr bin Syu'aib Radhiyallahu'anhu dari bapaknya dari kakeknya bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Artinya : Sebaik-baik doa adalah pada hari Arafah". [Sunan At-Tirmidzi, bab Jamiud Da'waat 13/83. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Ta'liq alal Misykat 2/797 No. 2598]


Nabi Adam Pun Bertawassul Kepada Nabi Muhammad

“Engkau benar, wahai Adam. Sesungguhnya dia adalah makhluk yang paling Aku cintai. Berdoalah kepadaku dengan haknya, niscaya Aku mengampunimu. Jika bukan karena Muhammad, niscaya tidak Aku ciptakan dirimu.”

Bila jalan untuk mendapatkan rahmat dan ampunan Allah, sebagaimana dikatakan oleh para ulama, sebanyak bilangan napas setiap makh­luk Allah, tawasul kepada Rasulullah SAW dalam berbagai hajat dan kondisi adalah salah satu jalan paling agung untuk mendapatkan limpahan curahan rahmat dan kasih sayang Allah SWT.


Hakikat itulah yang tidak tersamar sedikit pun dalam pandangan para ahli ma’rifah di dalam setiap gerak-gerik dan upaya mereka meraih limpahan karunia Ilahi. Karenanya tak mengherankan jika mereka kemudian menjadikan tawasul sebagai bagian terindah dalam setiap rangkaian doa yang mereka panjatkan.

Dalam syair Burdah-nya yang ter­amat indah dan termasyhur, Imam Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Sa’id Ash-Shanhaji Al-Bushiri mengung­kapkan bait-bait tawasui kepada Rasul­ullah SAW:

Wahai makhluk yang paling mulia Tiada ada satu apa pun yang ‘ku bersandar padanya selain engkau di saat turunnya bencana yang menimpa seluruh makhluk
Wahai Rasulullah,
sungguh tiada berkurang derajatmu karenaku
di saat Yang Maha Pemurah bertajalli dengan asma-Nya Yang Maha Pendendam

Dahsyatnya tawasul tidak hanya di­kenal oleh umat Islam, melainkan sudah dikenal oleh umat-umat penganut aga­ma samawi sejak dahulu kala, sebagaimana dinukilkan dalam kitab-kitab ula­ma. Karena manusia yang pertama kali bertawasul adalah ayah semua manu­sia, yakni Nabi Adam AS.

Dari Umar RA, Rasulullah SAW ber­sabda, “Setelah Adam mengakui kesa­lahan yang dilakukannya, ia berkata, ‘Wahai Tuhanku, Aku memohon dengan hak Muhammad agar Engkau mengampuniku.’

Allah berfirman, ‘Wahai Adam, bagai­mana engkau tahu Muhammad padahal Aku belum menciptakannya.’

Adam menjawab, ‘Wahai Tuhanku, (aku mengetahuinya) karena setelah Engkau menciptakanku dengan tangan- Mu dan Engkau tiupkan ruh-Mu kepada­ku, aku menengadahkan kepalaku, maka aku lihat di atas tiang-tiang arsy tertulis La ilaha illallah Muhammadur rasulullah (Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah rasul Allah). Aku pun tahu bahwa sesungguhnya tiadalah Engkau menyandarkan suatu nama ke­pada nama-Mu kecuali ia makhluk yang paling Engkau cintai.’

Allah berfirman, ‘Engkau benar, wahai Adam. Sesungguhnya ia adalah makhluk yang paling Aku cintai. Berdoa­lah kepadaku dengan haknya, niscaya Aku mengampunimu. Jika bukan karena Muhammad, niscaya tidak Aku ciptakan dirimu.”

Lewat jalur yang berbeda, sebagai­mana diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, dari Ibn Abbas, terdapat tambahan lafazh, “Allah berfirman, ‘Jika bukan karena Muhammad, niscaya tidak Aku ciptakan Adam, tidak pula surga, dan tidak pula neraka’.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, Al-Hafizh As- Suyuthi dalam Al-Khashaish an-Naba- wiyah, Al-Baihaqi dalam Dalail an-Nubuwwah, dan Ath-Thabarani dalam Al- Awsath.

Dalam riwayat yang lain, sebagai­mana dikeluarkan oleh Ibnul Mundzir da­lam tafsirnya, dari Muhammad Bin Ali bin Husain bin Ali ‘alaihimus salam, ia ber­kata, “Setelah Adam melakukan kesa­lahan, teramat beratlah duka yang di­rasakannya dan teramat mendalam pe­nyesalannya. 

Kemudian datanglah Jibril menemuinya dan berkata, ‘Wahai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pintu taubatmu yang Allah akan mengampuni­mu melalui pintu itu?’
Adam menjawab, ‘Tentu, wahai Jibril.’
Jibril berkata, ‘Berdirilah, wahai Adam, duduklah di tempat engkau ber­munajat kepada Tuhanmu. Agungkanlah Dia dan pujilah, karena sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang lebih Allah sukai daripada pujian.’
Adam bertanya kembali, ‘Lalu apa yang harus aku ucapkan, wahai Jibril?’
Jibril berkata, ‘Ucapkanlah: Tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha satu, tiada sekutu bagi-Nya. Hanya bagi-Nyalah segala kekuasaan dan hanya milik-Nya- lah segala pujian. Yang Maha Meng­hidupkan dan Mematikan. Dia Mahahidup dan tidak akan pernah mati. Di tangan- Nya-lah segala kebaikan dan Dia Maha­kuasa atas segala sesuatu.’ 

Setelah itu engkau akui kesalahanmu dan ucapkan, ‘Mahasuci Engkau, ya Allah. Dengan se­gala puji bagi-Mu, tiada Tuhan selain Engkau, wahai Tuhanku, sungguh aku te­lah berbuat zhalim terhadap diriku sendiri dan aku telah perbuat keburukan, maka ampunilah aku. Karena sesungguhnya tiada yang dapat mengampuni selain Engkau. Ya Allah, Aku memohon kepada-Mu dengan kedudukan Muhammad, hamba-Mu, dan dengan kemuliaannya di hadapan-Mu, agar Engkau mengampuniku atas kesalahanku.’
Maka Adam pun melakukannya.

Lalu Allah berkata, ‘Wahai Adam, siapa yang mengajarimu hal itu?’
 
Adam menjawab, ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya setelah Engkau meniup­kan ruh-Mu dan aku telah menjadi manu­sia seutuhnya dan aku dapat mende­ngar, melihat, memikirkan, dan meng­amati, aku melihat di sisi arsy-Mu tertulis Bismillahirrahmanirrahim, la Ilahaillallah wahdahu la syarikalah Muhammadur rasulullah. Dan setelah aku tidak melihat setelah nama-Mu nama seorang malaikat muqarrabun dan tidak pula nama se­orang nabi yang diutus pun selain nama­nya, mengertilah aku bahwa sesungguh­nya ia adalah makhluk paling mulia di sisi-Mu.’
Allah berfirman, ‘Engkau benar. Dan sungguh Aku telah menerima taubatmu dan mengampunimu’.”


Hukum Karma Menurut Pandangan Islam



ISTILAH karma berasal dari ajaran agama Budha and Hindu. Arti sederhana dari karma adalah segala perbuatan yang dilakukan akan memiliki akibat pada pelaku di masa selanjutnya. Tindakan buruk saat ini akan berakibat keburukan di masa datang. Perilaku baik akan berakibat kebaikan.

Dalam kitab Abhidamma dikatakan bahwa setiap impresi rasa, yakni seluruh perilaku manusia, dapat dianggap sebagai akibat dari karma. Dalam doktrin ini, apabila seseorang terlahir sebagai orang miskin, maka itu terjadi karena akibat perilaku orang tersebut pada kehidupan sebelumnya.
Itu artinya, kehidupan manusia di dunia itu bukan hanya sekali tetapi berulang-ulang. Kehidupan sekarang adalah akibat dari kehidupan sebelumnya dan akan berdampak pada kehidupan masa datang.

Jadi doktrin karma dalam agama Budha adalah:
(a) Adanya hukum sebab akibat dan itu terjadi di dunia;
(b) adanya reinkarnasi yakni bahwa kehidupan saat ini adalah titisan kehidupan masa lalu dan akan menitis pada kehidupan (orang lain) di masa datang.

PANDANGAN ISLAM TENTANG KARMA

Islam juga mengenal doktrin sebab akibat bahwa perbuatan baik akan berakibat baik dan perilaku buruk akan berakibat buruk.
- Akibat dari perbuatan manusia terkadang akan dirasakan di dunia ini saat kita masih hidup. Ini mirip dengan karma

Dalam QS Ar-Rum 30:41 Allah berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya: Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Dalam QS As-Sajdah 32:21 Allah berfirman:

وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَىٰ دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya: Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).
Namun, mayoritas balasan dari tindakan kita akan terjadi di akhirat, pada kehidupan setelah mati. Tepatnya setelah kiamat tiba.

Dalam QS An-Nahl 16:61 Allah berfirman:

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّـهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِم مَّا تَرَكَ عَلَيْهَا مِن دَآبَّةٍ وَلٰكِن يُؤَخِّرُهُمْ إِلَ أَجَلٍ مُّسَمًّى ۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَـْٔخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Artinya: Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya.

Oleh karena itu, dalam Islam orang jahat bisa saja memiliki kehidupan yang tenang di dunia bersama anak dan istrinya. Namun, jelas ia akan mendapat hukuman yang setimpal kelak di akhirat.
Perilaku yang baik di dunia akan mendapat pahala yang setimpal di akhirat. Tindakan jahat dan buruk di dunia akan berakibat hukuman yang setimpal di akhirat kelak.

Dalam QS An-Sajdah 32:21 Allah berfirman:

وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَىٰ دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya: Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).

Karma = Reinkarnasi

Hukum karma dalam Budha juga berkaitan dengan reinkarnasi–penitisan kehidupan seseorang yang sudah mati pada orang lain yang masih hidup. Artinya, nasib yang dialami saat ini sebagai akibat dari kehidupan (orang lain( di masa lalu. Dan perilaku sekarang akan berakibat pada kehidupan (orang lain) selanjutnya.

Dalam Islam, reinkarnasi tidak dikenal. Manusia hidup di dunia hanya sekali. Dan setiap orang bertanggung jawab dan memikul akibat dari apa yang dia lakukan sendiri.

Dalam QS An Najm 53:39-41 Allah berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى (*) وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى (*) ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَى

Artinya: Bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.


Islampos

Mengapa Doa Ibu Mampu Menembus Langit ?



BUKANLAH tidak mungkin jika sangatlah banyak orang orang sukses di seluruh dunia ini lantaran mempunyai hubungan yang baik dengan kedua orang tuanya terlebih kepada ibu. Kenapa? Karena ridha Allah ialah ridha orang tua, dan doa ibu itu sungguh tanpa hijab di hadapan Allah mudah menembus langit. Sehingga doa seorang ibu yang ia dipanjatkan untuk anaknya boleh jadi sangat mudah untuk Allah kabulkan.

Mungkin sebagian orang masih tidak sadar bahwa kemungkinan kesuksesan-kesuksesannya selama ini adalah buah dari doa seorang ibu kepada Allah tanpa ia ketahui. Dan seorang ibu itu tanpa disuruh pasti akan selalu mendoakan anaknya di tiap nafasnya kala bermunajat kepada Allah. Tapi seorang anak belum tentu selalu berdoa untuk orang tuanya.

Barangkali juga kita suka mengeluh tentang sifat buruk orang tua, entah karena ibu nya cerewet, suka ikut campur, suka nyuruh-nyuruh, tidak gaul dan lain sebagainya. Jika seperti ini maka tragis. Kenapa tragis? Karena terlalu fokus dengan secuil kekurangan orang tua dan melupakan segudang kebaikan yang telah diberikan kepada kita selama ini.

Di luar sana mungkin ada orang-orang di pinggir jalanan, di bawah kolong jembatan dan di tempat lainnya mereka juga suka mengeluh, tapi yang mereka keluhkan ialah bukan karena sifat orang tua atau ibu mereka, tapi mereka mengeluh karena mereka tidak punya lagi orang tua.

Bersyukurlah jika masih mempunyai orang tua. Jika ingin tahu rasanya tidak punya ibu, coba tanyakan kepada mereka yang ibu nya telah tiada. Mungkin perasaan mereka sangat sedih dan kekurangan motivasi dalam hidup.

Coba bayangkan jika kita tidak punya ibu, ketika kita akan pergi ke luar rumah untuk sekolah atau bekerja, tidak ada lagi tangan yang bias kita cium. Jika tidak punya ibu mungkin tidak ada lagi makanan yang tersedia di meja makan saat kita pulang. Jika kita tidak punya ibu lagi ketika hari lebaran rumah terasa sepi dan lebaran terasa tanpa makna. Jika kita tidak punya ibu barangkali kita hanya bisa membayangkan wajah tulusnya di pikiran kita dan melihat baju-bajunya di lemarinya.

Banyak di antara kita suka mengeluh tentang sifat negatif ibu kita, tapi kita tidak pernah berfikir mungkin hampir setiap malam ibu kita di keheningan sepertiga malam bangun untuk shalat tahajud mendoakan kita sampai bercucuran air mata agar sukses dunia dan akhirat.

Mungkin di suatu malam beliau pernah mendatangi kita saat tidur dan mengucap dengan bisik “nak, maafkan ibu ya… ibu belum bisa menjadi ibu yang baik bagimu” kita mungkin juga lupa di saat kondisi ekonomi rumah tangga kurang baik, ibu rela tidak makan agar jatah makannya bisa dimakan anaknya. Ketika kita masih kecil ibu kira rela tidur dan lantai dan tanpa selimut, agar kita bisa tidur nyaman di kasur dengan selimut yang hangat.

Setelah semua pengorbanan telah diberikan oleh ibu kita selama ini, lalu coba renungkan apa yang kita perbuat selama ini kepada ibu kita? Kapan terakhir kita membuat dosa kepadanya? Kapan terakhir kita membentak-bentaknya? Pantaskah kita membentak ibu kita yang selama Sembilan bulan mengandung dengan penuh penderitaan? Oleh karena itu maka berusahalah untuk berbakti kepada orang tuamu khususnya kepada Ibumu. Karena masa depan kita ada di desah doa-doanya setiap malam. Dan ingat perilaku kita dengan orang tua kita saat ini akan mencerminkan perilaku anak kita kepada diri kita nanti.

Dan doa ibu itu mampu menembus langit, sangat mustajab di hadapan Allah. maka muliakanlah ibumu.

Islampos