"Ya Rabb-ku, ampunilah aku, dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan, yang tidak dimiliki oleh seorangpun juga sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha pemberi’."
Rabu, 09 Juli 2014
Amanah Kepemimpinan
Salah satu akhlak mulia ialah memelihara amanah dalam hidup keseharian kita. Dalam tataran politik, misalnya, amanah itu berarti kedudukan atau jabatan yang diperoleh dengan melibatkan dukungan orang banyak.
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan bila kalian menetapkan hukum di antara manusia supaya kalian menetapkannya dengan adil.” (QS An-Nisa [4]: 58).
Ayat di atas menjelaskan, amanah – khususnya di dunia politik praktis – harus diberikan kepada orang yang berhak, yakni seseorang yang mampu berbuat adil dalam menetapkan hukum.
Namun, kebanyakan kita menganggap jabatan sebagai sebuah prestasi sendiri yang diraih dengan susah payah. Hal ini memang benar tapi lebih tepatnya jabatan adalah sebuah amanah yang harus dilaksanakan untuk menebarkan keadilan.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah ada seseorang hamba yang Allah beri kepercayaan untuk memimpin, kemudian pada saat matinya dia berada dalam (keadaan) melakukan penipuan terhadap rakyatnya kecuali akan diharamkan atasnya untuk masuk surga.” (HR Bukhari-Muslim).
Oleh karena itu, Islam mengingatkan pengemban amanah harus orang yang cakap, ahli, dan bisa dipertanggungjawabkan kejujurannya. Sebab, bila amanah itu dipegang orang yang tidak tepat akan membawa kehancuran bagi kehidupan kolektif.
Dalam sejarah Islam, banyak tokoh yang menangis ketika ia diberi jabatan. Karena, ia sadar dalam jabatan itu terkandung beban yang harus dipertanggung-jawabkan nanti di hadapan Allah.
Saat Umar bin Abdul Aziz diberitahu tentang kesepakatan kaum Muslimin mengangkatnya sebagai pemimpin, ia malah menangis. Ia menyadari, amanah itu sangat berat di akhirat kelak.
Tangisan Umar, pada saat itu menjadi titik awal untuk selalu mengemban amanah sehingga roda pemerintahannya dapat menyejahterakan rakyat. Meskipun amanah itu berat di akhirat, kita tidak seharusnya menghindari amanah rakyat.
Ketika kita menyadari amanah akan dipegang orang tidak berkemampuan, dan menurut analisa kita lebih mampu untuk mengemban amanah, tidak mengapa bila menawarkan diri, seperti yang dilakukan Nabi Yusuf.
Dia menawarkan diri menjadi bendahara di Mesir dan menyatakan sanggup menata anggaran belanja negara untuk menghadapai tujuh tahun musim subur dan musim peceklik selama tujuh tahun pula.
Setelah menjadi bendahara, terbukti ia mampu menghindarkan penduduk di Mesir dari kelaparan. Allah mengancam keras orang yang menyia-nyiakan amanah. Ancaman bukan hanya ditunjukan pada individu yang memegang amanah itu. Tetapi ancaman juga berupa kehancuran komunitas yang berada di bawah kepemimpinannya.
Allah SWT berfirman, “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya." (QS Al-Isra’ [17]: 16).
Karena itu, orang yang mengkhianati amanah, seperti disabdakan Nabi SAW, termasuk orang munafik yang diancam siksa api neraka. Seorang pemimpin yang tak mampu memegang amanah masuk golongan manusia yang dibenci Allah SWT.
Sabdanya, “Ada empat golongan yang paling Allah benci. Peniaga yang banyak bersumpah, orang fakir yang sombong, orang tua yang berzina, dan seorang pemimpin (penguasa) yang zalim.” (HR An-Nasai). Wallahua'lam.
Republika.co.id
Berjuang Dengan Ikhlas
Seperti diketahui, Khalid bin Walid adalah jenderal yang memimpin pasukan Islam melawan tentara Romawi di Yarmuk, Suriah. Dalam sejarah, perang ini dikenal dengan nama Perang Yarmuk.
Perang masih berkecamuk saat datang surat perintah dari Khalifah Umar bin Khattab untuk memberhentikan Khalid bin Walid sebagai pemimpin perang dan menunjuk Abu Ubaidah bin Jarrah sebagai penggantinya.
Setelah perang usai, dengan kemenangan di pihak Islam, Abu Ubaidah menyerahkan surat pemberhentian itu kepada Khalid.
“Kenapa baru sekarang diserahkan,” tanya Khalid. Abu Ubaidah menjawab, “Bukan kerajaan dunia yang kami mau, dan bukan untuk dunia kami berbuat.” (Rijal haula al-Rasul, 262).
Khalid bin Walid dikenal sebagai jenderal perang yang sangat masyhur dan tak terkalahkan. Ia selalu memperoleh kemenangan dalam 100 kali pertempuran yang diikuti baik sebelum maupun setelah ia memeluk Islam.
Ia pantas menerima gelar Pedang Allah (Sayfullah). Dalam Perang Yarmuk, ia membabat begitu banyak musuh, hingga pedangnya sembilan kali patah. Dikatakan, pedang Khalid boleh patah, tetapi pedang Allah (Khalid) tidak boleh patah.
Meskipun dipecat saat di puncak kariennya sebagai militer, Khalid tidak sakit hati, tidak pula galau. Ia tidak berhenti, dan tetap berjuang. Kepada teman-temannya, ia menyatakan bekerja dan berjuang bukan untuk Umar, tetapi untuk Allah.
Ia berjuang secara tulus dan ikhlas. Kini bendera kepemimpinan berada di tangan Abu Ubaidah, sahabatnya. Seperti Khalid, sahabat Nabi yang satu ini, Abu Ubaidah adalah pejuang sejati.
Saat itu, ia tak buru-buru menyerahkan surat penunjukan dirinya sebagai panglima perang kepada Khalid. Alasannya satu dan sama, ia berperang bukan untuk mencari kemuliaan sendiri, melainkan untuk Islam dan kaum Muslimin.
Melebihi kedua orang jenderal di atas, Umar dikenal sebagai khalifah yang arif dan bijaksana. Seperti diketahui, ia sangat jujur, pemberani, bersikap tegas dan adil, sehingga gelar al-Faruq yakni pemisah yang hak dan batil dilekatkan kepadanya.
Banyak orang bertanya, mengapa Khalifah Umar memberhentikan Jenderal Khalid? Padahal Khalid brilian dan berprestasi. Khalifah Umar, tentu memiliki alasan-alasannya sendiri. Paling tidak, tiga pelajaran yang ingin beliau tunjukkan.
Pertama, mengingatkan kepada Khalid dan juga kepada setiap Muslim, pangkat dan jabatan bukanlah tujuan. Ia hanyalah amanat perjuangan dan pengabdian. Kedua, meski selalu meraih kemenangan, jangan sampai Khalid dipuji berlebihan.
Jangan sampai pula kekuatan dan kemenangan Islam bergantung hanya pada Khalid seorang. Ketiga, menunjukkan kepada dunia, Islam memiliki SDM yang kaya dan kuat, dan kaderisasi kepemimpinan yang dilakukan Umar berjalan baik.
Dalam pandangan Umar, perjuangan Islam adalah sarana untuk mencetak para pemimpin. Dalam kondisi demikian, tidak ada masalah, bendera kepemimpinan dipindahkan dari Khalid ke Abu Ubaidah atau kepada sahabat yang lain.
Sebagai tentara Allah, para sahabat tidak pernah ragu berjuang, sebagai panglima atau prajurit biasa. Wallahu a`lam!
REPUBLIKA.CO.ID
Pelihara Malu
Kebanyakan manusia pada hari ini tidak memiliki malu. Sifat malu ibarat barang langka di tengah-tengah masyarakat.
Sedikit sekali ada yang malu berbuat buruk, malu menggunjing, malu tidak amanah, malu karena malas, dan malu suka bohong.
Kenyataan yang lebih parah, banyak orang membuka aibnya sendiri. Entah itu masa lalunya atau hubungan buruknya dengan istri atau mantan kekasihnya di depan publik. Betapa entengnya mereka menyebut pernah berbuat ini dan itu.
Mereka umbar kekurangan orang lain tanpa sensor. Bahkan, isi dapur rumah sendiri dibongkar habis di hadapan media. Seperti itulah lakon para selebritas akhir-akhir ini.
Al-Imam an-Nawawi berkata, “Para ulama mengatakan malu hakikatnya adalah akhlak yang mengantar seseorang untuk meninggalkan kejelekan dan menghalanginya mengurangi hak-hak orang lain.’’
Sifat malu adalah pembawaan dalam diri seorang yang mendorongnya untuk mengetahui perbuatan buruk, meninggalkan prilaku yang tidak pantas dan kurang layak, serta mencegah diri dari kelalaian memenuhi hak dan kewajiban.
Orang kuat keimanannya kuat pula rasa malu dalam hatinya. Sebaliknya, orang yang lemah keimanannya sedikit rasa malunya.
Maka jika telah hilang sama sekali rasa malu dalam diri seorang manusia, dikhawatirkan hilang pula rasa malunya.
Rasulullah SAW sangat pemalu. Ini digambarkan Abu Sa’id Al-Khudri, “Rasulullah lebih pemalu daripada gadis dalam pingitannya. Bila beliau tidak menyukai sesuatu, kami bisa mengetahuinya pada wajah beliau.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat lain, beliau menegaskan, “Malu itu kebaikan seluruhnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim). Muncul pertanyaan, mengapa malu itu semuanya baik? bukankah kita mendapati ada orang yang malu berbuat baik atau meninggalkan maksiat?
Jawabannya, jika rasa malu pada seseorang menghalanginya melakukan kebaikan atau mendorongnya berbuat kemaksiatan pada hakikatnya itu bukanlah malu. Itu merupakan sikap lemah yang melekat pada diri seseorang.
Ibnu Rajab Al-Hambali ketika menjelaskan hadis di atas, mengatakan, malu yang dipuji dalam ucapan Rasulullah SAW adalah akhlak yang bisa mendorong seseorang melakukan kebaikan dan meninggalkan kejelekan.
Sedangkan rasa lemah yang menyebabkan seseorang mengurangi hak Allah ataupun hak hamba-Nya bukan termasuk malu. Tetapi ini adalah kelemahan, ketidakmampuan, dan kehinaan.
Hendaklah kita memelihara sifat malu yang diajarkan oleh Islam. Malu pada tempatnya. Sebab, sifat malu itulah perhiasan hidup manusia di dunia ini. Tanpanya, manusia tidak berbeda dengan hewan.
REPUBLIKA.CO.ID,
Sahur Ala Rasulullah SAW
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ustaz Yusuf Mansur
Baginda Rasulullah SAW merupakan panutan bagi kita. Setiap kalamnya, perbuatannya, dan gerak-geriknya patut kita contoh. Sehingga, mudah-mudahan menjadi keberkahan bagi kita yang mengikutinya.
Bersahur adalah anjuran Rasulullah SAW, seperti diriwayatkan bahwa Rasul bersabda, “Bersahurlah kalian karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat keberkahan.” (HR Bukhari Muslim).
Hadis tersebut menunjukkan, seorang yang berpuasa diperintahkan untuk bersahur karena di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak serta keberkahan yang agung, baik di dunia maupun di akhirat.
Anjuran ini dipertegas dalam hadis-hadis yang lain, di antaranya adalah Sabda Rasulullah, “Pembeda antara puasa kita dan puasa ahlul kitab adalah makanan sahur.”
Lalu, adakah menu sahur yang dianjurkan Rasulullah? Ya, di antara menu yang dianjurkan saat bersahur adalah memakan buah kurma.
Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah, “Sahurnya orang Mukmin adalah buah kurma.” (HR Abu Daud). Namun, untuk mendapatkan keberkahan sahur seperti dalam hadis di atas, tidaklah harus dengan menu khusus.
Keberkahan sahur dapat diraih dengan menu apa pun yang halal walaupun hanya dengan seteguk air. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW, “Makanan sahur merupakan makanan yang berkah maka janganlah kalian meninggalkannya walaupun hanya seteguk air, sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang bersahur.” (HR Ahmad).
Selain menu sahur, ada juga waktu sahur yang dianjurkan Rasulullah saw. Jika saat berbuka puasa kita disunahkan mempercepat berbuka, maka saat bersahur kita disunahkan untuk mengakhirkannya.
Adakah ukuran waktu khusus yang dilakukan Rasulullah saat bersahur? Ya, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan al-Imam al-Bukhori, sahabat Nabi yang bernama Zaid bin Tsabit pernah bersahur bersama Rasulullah dan melaksanakan shalat Subuh.
Setelah itu, lalu Zaid ditanya, “Berapa lama jarak antara usai sahur dan shalat Subuh?” Sayidina Zaid menjawab, “Seukuran membaca 50 ayat dari Alquran.” Kalau diukur dengan bacaan Alquran yang sedang, kurang lebih 15 menit sebelum Subuh.
Hadis-hadis di atas mengajarkan kepada kita bersahur ala Rasulullah. Semoga kita dapat mengikuti sunah-sunah beliau sehingga kita termasuk orang yang mendapatkan kehormatan di surga bersama beliau. Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)



